Ponorogo (beritajatim.com) – Seorang warga Ponorogo meraih sukses dari bisnis kuliner. Dia punya trik promosi yang unik hingga menarik minat konsumen untuk terus berdatangan.
Ilham Nadhir, warga Desa Sawoo, Kecamatan Sawoo ini menerapkan cara yang keren dengan memajang foto setiap konsumen yang datang ke Warung Rajabasa Sambal Ijo miliknya. Dengan cara tersebut, Ilham mampu meraih jutaan rupiah dari warungnya yang mengkhususkan diri pada menu nasi lalapan sambal cabai hijau.
“Pembeli yang singgah makan ke Rajabasa Sambal Ijo saya sempatkan untuk difoto, dicetak dan dipajang di berbagai sudut warung,” kata Ilham, Kamis (1/9/2022).
Dari segi menu, sebenarnya tidak ada yang berbeda antara warung milik Ilham dengan tempat makan lalapan lainnya. Dia menyajikan beragam lauk mulai ikan lele, ayam, maupun bebek dipadu dengan lalapan dan sambal ijo.
Selain lewat promosi unik, Ilham menerapkan konsep berbeda pada warungnya yaitu dengan prasmanan. Setiap pengunjung dipersilakan mengambil nasi, lalapan dan sambal sepuasnya.
Soal harga pun tidaklah mahal. Untuk lauk ayam dan lele dijual Rp25 ribu per porsi, sementara bebek Rp35 ribu.
Dia juga membebaskan pengunjung jika hendak tambah tiga item tersebut. Ilham tidak menerapkan biaya tambahan, dengan catatan pengunjung harus menghabiskan makanannya.
“Karena prasmanan, makan sepuasnya ambil nasi, lalapan dan sambal ijo. Kita juga perlakuan denda bagi pembeli yang tidak menghabiskan makanannya. Kalau tidak habis, cuma kita denda Rp10 ribu saja,” kata dia.
Trik ini ternyata membuat warung yang berlokasi di Jalan Raya Ponorogo-Trenggalek, tepatnya di Desa Prayungan, Kecamatan Sawoo itu tak pernah sepi pembeli. Bahkan semakin dikenal lantaran foto setiap pengunjung terpajang di warungnya.
Kisah sukses Ilham tidak muncul secara instan. Dia pernah melalui masa-masa sulit sebelum akhirnya mendirikan warung makan berbasis lalapan itu.
Dulu, Ilham adalah seorang sopir bus jarak jauh. Rutenya tidak hanya di Jawa melainkan sampai Sumatera. Ketika bertugas, Ilham harus meninggalkan keluarganya dalam waktu lama. Paling cepat satu pekan dia bisa bertatap muka dengan anak dan istrinya.
Profesi sebagai sopir bus jarak jauh itu dia jalani selama 10 tahun. Baru pada 2013, dia memutuskan berhenti.
“Pernah jadi sopir bus jurusan Jawa-Sumatera selama 10 tahun. Karena merasa kangen dan tidak ingin jauh dari keluarga, akhirnya saya putuskan untuk berhenti jadi sopir bus,” ungkap Ilham.
[berita-terkait number=”3″ tag=”Ponorogo”]
Berbagai pekerjaan dan usaha dia jalani usai tidak lagi bekerja sebagai sopir bus. Mulai makelar kendaraan bekas hingga pada 2014 lalu membuka usaha warung kopi atau angkringan.
Dari warung kopi itulah, jalan sukses Ilham mulai terbuka. Berawal dari banyaknya pembeli yang bertanya soal makanan. Padahal, saat itu warung kopinya menyediakan nasi bungkus.
Seringnya mendapat pertanyaan soal apakah menyediakan menu makan membuat Ilham berinisiatif membuka usaha kuliner berbasis lalapan dan sambal. Hingga akhirnya tercetus usaha nasi lalapan sambal ijo.
Sambal ijo dipilih sebagai kekhasan karena Ilham pernah tinggal lama Sumatera. Sementara menu tersebut jarang sekali ada orang-orang di Jawa untuk usaha sambal ijo tersebut.
“Sejak kecil sudah lama di Sumatera. Tetapi bapak saya dan istri asal Ponorogo. Setelah menikah tinggal di Ponorogo,” katanya.
Saat baru berdiri, warungnya sempat sepi. Namun dengan kegigihannya, lambat laun racikan sambal ijo Ilham mulai dikenal masyarakat.
Lambat laun, usaha Ilham terus membesar. Dari awalnya buka pada sebuah ruko di pasar tradisional, kini menempati lahan cukup luas di pinggir Jalan Raya Ponorogo-Trenggalek.
Berkah kesuksesan Ilham di bidang kuliner itu, juga tidak lepas dari kebiasaannya bersedekah. Terutama kepada anak yatim piatu dan jemaah masjid.
Dia juga menggratiskan makan sepuasnya kepada anak yatim, ibu hamil, hafiz, orang yang berbuka puasa Senin Kamis, dan musafir. “Intinya saya yakini kalau sedekah itu akan bisa menarik rezeki,” kata Ilham. [end/beq]






