Gresik (beritajatim.com)- Warga Desa Banjarsari, Kecamatan Manyar, Gresik, menggelar tradisi lebaran kupatan. Tradisi ini biasanya digelar sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri 1446H.
Hari Raya Kupatan, atau lebih dikenal dengan sebutan ‘Lebaran Ketupat’ merupakan tradisi yang sudah mengakar dalam budaya masyarakat jawa.
Masyarakat biasanya membuat ketupat lalu disajikan bersama. Sajian ketupat tidak hanya dilakukan di rumah melainkan juga di masjid sambil berdoa bersama.
Tradisi yang sudah mengakar ini sebagai bentuk syukur setelah menjalankan ibadah sunnah enam hari di hari bulan syawal. Kupatan pertama kali dikenalkan Sunan Kalijaga seorang wali penyebar agama islam di Pulau Jawa.
Ketupat, atau kupat dalam Bahasa Jawa, merupakan akronim dari ‘Ngaku Lepat’ yang berarti mengakui kesalahan. Hal itu melambangkan permintaan maaf dan saling memaafkan antar sesama.
Pramono (50) salah satu warga Desa Banjarsari, Kecamatan Manyar mengatakan, tradisi Lebaran Ketupat tidak hanya sekadar perayaan budaya, tetapi juga memiliki nilai religius yang mendalam.
“Tradisi ini sudah turun-temurun dilakukan oleh warga Desa Banjarsari dan sampai sekarang masih dilestarikan,” katanya, Minggu (6/4/2025).
Masih menurut Pramono, moment ketupatan juga dijadikan ajang bersilaturahmi dengan keluarga dan tetangga supaya guyub rukun.
Hal senada juga dituturkan oleh M.Sholeh. Saat lebaran ketupat suasana di desanya lebih ramai dibanding hari lebaran. Ini karena warganya saling bertukar makanan dengan bahan dasar ketupat lalu disantap bersama-sama sambil bersilaturrahmi.
“Suasanya lebih ramai karena semua warga berbagi makanan di lebaran kupatan,” tuturnya. [dny/aje]






