Surabaya (beritajatim.com) – Pegiat sejarah dan aktivis budaya dan sejarah dari komunitas Puri Aksara Rajapatni Surabaya, Nanang Purwono bersama Imam Syafi’i menggelar edukasi sejarah bagi warga sekitar kawasan Kota Lama Surabaya, khususnya zona Eropa.
Warga setempat tumplek blek di sebuah rumah model Indiesch dari abad 19 dengan pilar pilar silinder megahnya pada bagian teras rumah.
Mereka, dari beragam usia, belajar sejarah Kota Lama Surabaya. Kota Lama Surabaya adalah eks Kota Eropa Surabaya di era Kolonial.
Melalui edukasi ini, Nanang ingin meningkatkan pemahaman warga akan nilai historis lingkungan mereka, sehingga mereka dapat menjadi “duta” yang mempromosikan kekayaan sejarah Surabaya kepada pengunjung.
“Kota Lama Surabaya, khususnya zona Eropa, memiliki nilai sejarah yang luar biasa. Sayangnya, banyak warga yang belum memahami sepenuhnya arti penting kawasan ini,” ujar Nanang memberikan edukasi sejarah kepada warga Kota Lama Zona Eropa Jalan Mliwis, Rabu (12/6/2024).
“Padahal, pada tahun 1793, Surabaya pernah menjadi ibu kota Pantai Utara Jawa bagian timur, lho!,” tambah dia.
Nanang menekankan bahwa pemahaman sejarah bukan hanya soal pengetahuan, tapi juga soal kebanggaan dan identitas.
“Ketika warga memahami sejarah kotanya, mereka akan lebih bangga dan merasa memiliki. Ini akan mendorong mereka untuk turut melestarikan dan mempromosikan warisan sejarah ini,” jelasnya.
Nanang memaparkan berbagai fakta menarik tentang Kota Lama Surabaya, termasuk struktur kota yang lengkap, infrastruktur pelabuhan yang maju, serta peran pentingnya dalam sejarah Jawa Timur.
Dia juga membandingkan Kota Lama Surabaya dengan kota-kota tua lain di Indonesia, seperti Semarang dan Jakarta.
“Kota Tua Surabaya tidak kalah menarik dari Semarang maupun Jakarta. Ketiga kota ini memiliki struktur yang sama,namun Surabaya memiliki keunikan tersendiri,” kata Nanang.
“Sayangnya, banyak orang yang belum memahami cerita di balik bangunan-bangunan bersejarah ini,” tambah mantan jurnalis ini.
Nanang berharap, melalui kegiatan edukasi ini, warga Kota Lama Surabaya dapat menjadi lebih dari sekadar penonton. Dia ingin warga menjadi pelaku aktif dalam melestarikan dan mempromosikan sejarah kota ini.
“Secara fisik, kawasan ini sudah indah dan layak menjadi kebanggaan. Namun, perlu ada upaya lebih lanjut untuk menjadikannya lebih informatif dan menarik bagi publik,” kata dia.
Sementara itu, Imam Syafi’i mengatakan kegiatan edukasi sejarah bagi warga sekitar Kota Lama zona Eropa ini bertujuan membekali warga dengan pengetahuan sejarah tentang lingkungan tempat tinggal mereka.
“Saya sendiri pun baru tau bahwa jalan Glatik ini dulunya bernama Stadhuizsteeg, yang berarti Gang Balai Kota ternyata dulu memang ada Balai Kota Pemerintahan Surabaya untuk wilayah timur di dekat sini,” jelas politisi NasDem ini.
“Ini kan enggak semua tahu. Supaya apa? Supaya nanti warga bisa menjelaskan kepada tamu-tamu yang datang ke kota lama ini,” tambah dia.
Imam juga berterima kasih kepada Nanang dan Puri Aksara Rajapatni yang menginisiasi kegiatan edukasi untuk warga sehingga warga punya kesempatan untuk belajar sejarah tentang tempat tinggalnya.
“Warga jangan jadi penonton. Warga harus jadi pemain,” pungkas dia. (ted)






