Surabaya (beritajatim.com) — Di tengah tantangan global yang menekan industri mebel rotan tradisional, secercah harapan tumbuh dari Desa Gading Watu, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik. Sebanyak 20 pengrajin rotan mengikuti Pelatihan Produksi Mebel Rotan dengan Teknik Cetak Press Dingin Berbasis Serat Kelapa dan Resin yang digelar oleh tim dosen Petra Christian University (PCU). Upaya ini menjadi langkah konkret menghadirkan teknologi baru bagi industri kriya lokal yang selama ini bertumpu pada metode turun-temurun.
Sejak 1970-an, Gading Watu dikenal sebagai sentra mebel rotan skala rumah tangga. Namun dalam beberapa tahun terakhir, industri ini menghadapi tekanan berat: persaingan harga yang ketat, desain yang dianggap monoton, proses produksi yang tidak efisien, keterbatasan teknologi, hingga semakin langkanya pasokan rotan alami. Kondisi ini menyeret para pengrajin pada kerentanan ekonomi yang makin nyata.
Pada saat yang sama, Indonesia justru dianugerahi limpahan limbah sabut kelapa—sumber daya pertanian yang melimpah tetapi belum sepenuhnya dimanfaatkan. Di titik inilah inovasi diperlukan, bukan sekadar untuk bertahan, tetapi untuk bertumbuh.
Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada 2025, tim PCU menghadirkan gagasan yang sederhana tetapi strategis: mengubah limbah sabut kelapa menjadi komposit serat kelapa–resin, material alternatif bernilai tinggi untuk mebel dan produk kriya.

“Serat kelapa memiliki kekuatan mekanis yang baik, ramah lingkungan, dan dapat menjadi elemen penguat yang menyatu dengan produk rotan modern,” jelas Dr. Adi Santosa, Ketua Tim sekaligus pemateri utama pelatihan, 11 Desember 2025 di Gading Watu.
Hadirnya teknologi cetak press dingin berbasis serat kelapa–resin memberi dua nilai strategis. Pertama, mendorong transformasi industri—selaras dengan SDG 9 tentang inovasi dan infrastruktur berkelanjutan. Kedua, memperkuat ketahanan ekonomi lokal sesuai SDG 8, karena membuka peluang kerja baru dan menghadirkan proses produksi yang lebih efisien, cepat, dan kompetitif.
Sebelum praktik lapangan, para pengrajin dibekali materi dari tiga dosen PCU, Purnama Esa Dora, (Interior Design PCU), yang memberikan pembekalan awal beserta test, Josua Tarigan, (Accounting PCU), yang menyampaikan pemaparan tentang Manajemen Produksi dan Bisnis, dan Prof. Dr. Juliana Anggono, (Mechanical Engineering PCU), yang berbicara mengenai Material Komposit Serat Kelapa -Resin.
Pada sesi praktik, para pengrajin memulai dari langkah paling dasar: menyiapkan serat kelapa, menakar resin, menyusun material ke dalam cetakan, melakukan pengepresan, hingga menunggu proses pengeringan sekitar 30 menit. Dari cetakan-cetakan itu lahir bentuk baru material komposit yang dapat diaplikasikan ke berbagai desain mebel, termasuk stool tanpa sandaran—produk yang sederhana namun menjanjikan ruang eksplorasi desain lebih luas.
“Kami ingin menunjukkan cara baru yang lebih praktis dalam mengolah bahan alam. Inovasi material berbasis potensi lokal membuka horizon desain baru untuk mebel rotan Nusantara,” imbuh Dr. Adi.
Menurutnya, keberhasilan adopsi material baru bukan hanya soal teknologi, tetapi tentang memulihkan keyakinan bahwa industri kriya tradisional masih punya tempat terhormat dalam ekonomi modern—asal diberi ruang untuk berinovasi.
Rangkaian kegiatan ini merupakan bagian dari Program Inovasi Seni Nusantara (PISN), yang turut didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Melalui pendekatan pendampingan berkelanjutan, program ini tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membangun jembatan antara tradisi dan inovasi.
Di tangan para pengrajin Gading Watu, limbah sabut kelapa kini bukan lagi sekadar residu alam—melainkan peluang ekonomi baru, bahan baku terbarukan, dan pintu masuk menuju industri mebel yang lebih modern, adaptif, dan berkelanjutan.
Sebuah bukti bahwa ketika kreativitas bertemu teknologi, masa depan dapat kembali ditata, setahap demi setahap, dari desa-desa kecil yang menjadi denyut nadi industri Nusantara. (fyi/aje)






