Bojonegoro (beritajatim.com) – Warga Dusun Ketangi, Desa Jumok, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro bergotong royong membangun jembatan yang putus akibat diterjang banjir. Jembatan penghubung antardusun itu putus setelah terjadi hujan lebat yang terjadi secara berturut-turut dan memicu banjir.
Kepala Dusun Ketangi, Kantun Supriyanto mengungkapkan, jembatan yang berlokasi di RT 29 putus itu pada Sabtu (15/10/2022) sekitar pukul 19.30 WIB. Jembatan itu menghubungkan Dusun Ngampel dengan Dusun Ketangi.
Sebelum jembatan putus, hujan turun cukup deras selama dua hari berturut-turut. Akibatnya, aliran sungai meluap dan mengalir cukup deras.
“Setelah air sungai surut, tanah sekitar jembatan yang menghubungkan antar dusun itu longsor dan jembatan putus,” ujarnya, Senin (17/10/2022).
Menurutnya, jembatan itu kali terakhir diperbaiki pada 2008. Jembatan yang memiliki panjang 12 meter, lebar 3 meter dan tinggi 3,5 meter itu kini tak bisa dilewati warga.
Walhasil, warga di RT 27, 28, dan 30, yang akan mengantarkan sekolah maupun belanja harus menempuh jalan memutar. Sementara, kondisi jalan alternatif itu sendiri juga memprihatinkan.
“Sedikitnya ada 150 KK yang terdampak. Sebagian warga tapi sudah ada yang menitipkan sepeda motor ke warga di RT sebelah, jadi tinggal menyeberang jembatan dengan jalan kaki,” katanya.
Saat ini warga secara bergotong royong membangun jembatan darurat di atas jembatan yang putus dengan menggunakan kayu. BPBD Bojonegoro juga telah memberikan bantuan berupa batang bambu, sesek bambu dan terpal.
[berita-terkait number=”3″ tag=”banjir-bandang”]
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro, Ardhian Orianto mengatakan, saat ini Kabupaten Bojonegoro telah mengalami masa pancaroba dan bersiap menghadapi bencana hidrometeorologi. Diperkirakan terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi disertai angin kencang dan petir.
“Masyarakat diharapkan waspada dan selalu berhati-hati apabila turun hujan, apabila dalam perjalanan untuk berhenti dan mencari tempat berlindung yang aman dan hindari pohon serta bangunan tinggi,” imbuhnya.
Pihaknya juga mengingatkan, agar masyarakat perlu juga mewaspadai terhadap bangunan rumah yang lapuk. “Selalu memantau situasi dan berkoordinasi dengan pemerintah desa, kecamatan dan BPBD. Selalu memantau prakiraan cuaca yang disampaikan oleh BPBD dan BMKG,” pungkasnya. [lus/beq]






