Surabaya (beritajatim.com) – Presiden Prabowo Subianto telah menunjuk Prof Stella Christie sebagai Wakil Menteri Bidang Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi.
Gelar professor di usia belia dan banyak mendapatkan tawaran mengajar dan berkarya di beberapa universitas ternama dunia ternyata tidak diraihnya secara mudah.
Dalam wawancara di Podcast Merdeka ternyata balik statusnya sebagai Wakil Menteri di Kabinet Merah Putih, Stella Christie menyimpan cerita perjalanan pendidikan yang berliku.
Perempuan alumnus Harvad University ini lahir di Medan, 1979. Uniknya, Stella juga memiliki kisah menarik selama menempuh pendidikan.
Kendati lahir di Medan, Stella Christie besar di Jakarta. Ketika duduk di bangku kelas 3 SMA, ia mendapat informasi mengenai beasiswa ke sekolah di Singapura.
Melalui beasiswa ini, para award dapat menerima 0 persen biaya selama 4 tahun periode sekolah menengah atas.
Layaknya kompetisi perebutan beasiswa, terdapat banyak pesaing dengan nilai-nilai sempurna. Stella dituntut untuk memiliki nilai pengetahuan yang cukup, serta meningkatkan kemampuan berbahasa inggrisnya.
“Namanya ASEAN Scholarship. Kebetulan, saya beruntung karena bisa lolos sebagai salah satu penerimanya.” ujar Stella ketika ditanya mengenai kehidupan sekolah menengahnya melalui Podcast.
Namun karena kemampuan bahasa inggris yang terbatas, Stella diharuskan untuk mengikuti kelas khusus berbahasa inggris di Singapore selama kurang lebih 6 bulan.
“Iya, kan bahasa inggrisnya masih belepotan. Gapapa yang penting pede dulu aja, dibarengin sama kemauan.” terang Stella disusul gelak tawa.
Pada ujian akhir, nilai yang diterimanya ada dalam standar baik. Tetapi, ketika akan melanjutkan pendidikan dengan naik ke E levels, ia memutuskan berhenti lantaran situasi pembelajaran yang sangat kompetitif. Ini yang membuat dirinya tidak naik kelas atau level.
Menurutnya, standar kompetitif Singapura membuatnya kurang nyaman, sehingga memutuskan berhenti pada klasifikasi tersebut.
Terkait beban belajar, ia menyatakan tak ada kendala yang begitu berarti, namun, situasi pembelajaran yang dirinya menilai sering “bikin pengap”.
“Saya dibilang kompetitif iya, tapi juga santai. Tapi standar kompetitif Singapura, ya, kayak kurang cocok gitu, lah. Jadi, pulang aja ke Indonesia.” tambahnya dengan tawa renyahnya. [aje]






