Jember (beritajatim.com) – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Jember Ahmad Halim mendukung tuntutan warga Desa Getem, Kecamatan Puger, untuk menutup tambak-tambak udang di sempadan pantai laut selatan. Tambak-tambak itu dianggap merugiakan para nelayan dan mencemari lingkungan.
Dukungan Halim ini ditunjukkan dengan cara ikut berjalan kaki bersama demonstran dari gedung DPRD Jember di Jalan Kalimatan ke kantor Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, di Jalan Sudarman. Dua anggota Dewan lainnya yang ikut berjalan kaki adalah Sunardi dari Gerindra dan Holil Asy’ari dari Golkar.
Halim juga menandatangani pakta integritas yang disodorkan warga dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang berunjuk rasa di depan kantor Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, Rabu (15/3/3023) kemarin.
Baca Juga:
Bupati Jember Tandatangani Pakta Integritas Tolak Tambak
Ada empat poin pakta integritas itu.
1. DPRD Jember akan mendesak Pemerintah Kabupaten Jember untuk menghentikan aktivitas produksi dan mencabut izin semua industri tambak modern di wilayah sempadan Pantai Getem.
2. Mendesak Pemerintah Kabupaten Jember untuk menghentikan rencana pertambangan pasir besi di wilayah pesisir Getem.
3. Mendesak Pemerintah Kabupaten Jember untuk mengembalikan wilayah pesisir pantai sebagai fingsi lindung.
4. DPRD Jember segera melakukan pengawasan dan mendesak pemerintah kabupaten merevisi RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) Jember yang tidak berpihak kepada kepentingan sosial dan ekologi masyarakat Jember selatan.
“Kami akan mendorong dan mengawal proses kebijakan yang ada, terutama terkait tambak di pesisir Getem ini sesuai tuntutan warga,” kata Halim.
Baca Juga:
Warga Long March ke Kantor Pemkab Jember untuk Tolak Tambak
Halim bisa memahami penolakan warga Getem terhadap tambak udang. “Berdasarkan informasi yang kami peroleh dari warga, sejak ada tambak-tambak modern atau tambak berskala besar, ada semacam pencemaran di laut. Otomatis akan mengganggu ekosistem laut. Padahal rata-rata masyarakat Getem bekerja sebagai nelayan,” katanya.
“Berdasarkan penuturan warga yang mengadu kepada kami, sejak ada tambak, wilayah tangkap ikan semakin jauh. Semakin ke tengah laut. Biasanya hanya satu dua kilometer sudah dapat ikan, sekarang lebih,” kata Halim.
Tambak juga berdampak buruk terhadap pertanian dan air. “Air tambak yang diputar kincir ternyata tertiup angin sampai sejauh satu dua kilometer, sehingga mempengaruhi hasil pertanian. Pembuahan padi atau tanaman tak sempurna,” kata Halim.
Persediaan air tanah juga tercemari oleh air laut dan tambak. “Sehingga banyak keluhan warga bahwa air tidak bersih lagi,” kata Halim. [wir/beq]






