Jember (beritajatim.com) – Hasti Utami, Wakil Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Kabupaten Jember, Jawa Timur, mengungkapkan kekecewaan terhadap munculnya ‘politisi pariwisata’.
“Sebelumnya kami aktif berkolaborasi dengan pemerintah untuk mengembangkan pariwisata Jember,” katanya, saat diwawancarai wartawan, usai menghadiri undangan serap aspirasi Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa di gedung DPRD Jember, Kamis (9/10/2025).
Namun saat ini, menurut Hasti, sebagian pelaku pariwisata memilih untuk mengembangkan bisnis masing-masing daripada berhubungan dengan birokrsi dan berkolaborasi dengan pemerintah. “Kami undur diri dari (pengembangan) pariwisata Jember, karena pariwisata Jember saat ini sudah ditangani politisi pariwisata,” katanya.
“Jujur, mereka tidak tahu apa-apa dan tidak pernah berbuat apa-apa di dunia pariwisata. Itu yang sangat kami sayangkan. Mereka memberi pelatihan, memberikan arahan, dan berusaha mengembangkan pariwisata dengan cara mereka sendiri yang menurut kami tidak ada ilmunya,” kata Hasti.
Hasti juga kecewa karena program pariwisata yang sudah dikembangkan pelaku pariwisata bersama Pemerintah Kabupaten Jember pada masa sebelumnya justru dihilangkan.
Hasti mencontohkan program Wisata Kampung Belgia di Kebun Sumberwadung, Desa Harjomulyo, Kecamatan Silo, yang diresmikan Bupati Hendy Siswanto, kini berubah nama menjadi Wisata Edukasi Sumberwadung.
“Di Kampung Belgia, kami sebenarnya tidak sedang mengembangkan destinasi wisata, tapi membuat pilot project yang bisa memotivasi dan ditiru perkebunan-perkebunan lainnya, untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat kebun melalui pengembangan pariwisata, terutama agrowisata heritage,” kata Hasti.
Hasti mendengar selentingan bahwa pergantian nama itu karena ada kekhawatiran bayang-bayang warisan bupati sebelumnya.
“Ini bukan persoalan bupati lama atau bupati baru. Siapapun pemimpinnya, kami rakyat harus berusaha membantu menyukseskan. Kalau ada program bagus, kenapa tidak dilanjutkan, tanpa takut bayang-bayang bupati lama,” katanya.
Hasti sangat menyayangkan perubahan nama Wisata Kampung Belgia. “Kampung Belgia mulai berkembang selama empat bulan masa pengembangan. Sayangnya sekarang mati total, tidak ada yang mengurusi,” katanya.
Hasti menyebut Wisata Kampung Belgia sebagai karya kolaborasi antara pegiat wisata, masyarakat, karyawan kebun, manajemen Perusahaan Daerah Perkebunan Kahyangan, dan Pemkab Jember.
Program lain yang diresmikan pada masa pemerintahan sebelumnya yang kemudian dihilangkan adalah tur wisata Bus Jelita (Jember Keliling Kota). Ini kegiatan tur keliling kota yang mengajak masyarakat ke destinasi wisata baru yang selama ini belum dikenal.
Rute wisata Jelita ini diumulai dari kantor Pemkab Jember, Masjid Jamik Lama Baitul Amien, Jalan A. Yani, Trunojoyo, Masjid Roudlatul Muchlisin, Masjid Ceng Ho, makam KH. Moh Siddiq, dan berakhir di Masjid Jamik Al Baitul Amin.
“Melalui bus Jelita ini, kami ingin memperkenalkan Kabupaten Jember yang luar biasa kepada masyarakat Jember sendiri agar bangga terhadap hal-hal luar biasa yang dimiliki Jember,” kata Hasti.
Dengan rasa bangga itu, Hasti yakin, masyarakat Jember sendiri akan menjadi duta wisata untuk kota mereka. “Kami juga ingin Bus Jelita jadi sarana untuk anak-anak di pelosok desa yang tidak tahu pusat kota sepert apa,” katanya.
“Selama ini kami banyak membawa anak-anak desa dari pelosok Jember ke kota untuk melihat alun-alun yang saat itu belum direnovasi. Mereka bahagia banget. Melihat makam Kiai Siddiq mereka senang banget. Apalagi melihat mall,” kata Hasti.
Lebih jauh, lanjut Hasti, Wisata Bus Jelita bertujuan memprakarsai tumbuhnya destinasi wisata baru dan menyentuh destinasi wisata yang sudah ada namun belum berkembang. “Sayangnya program ini sudah dihapus pemerintah,” katanya.
Hasti berharap aspirasi yang disampaikannya bisa diperjuangkan DPRD Kabupaten Jember, khususnya Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, terutama terkait kelangsungan program Kampung Wisata Belgia dan Tur Bus Jelita.
“Pariwisata adalah solusi untuk pengentasan kemiskinan, terlebih pada saat masa efisiensi seperti sekarang. Pariwisata adalah bisnis bermodalkan kreativitas yang diharapkan bisa jadi tumpuan bagi Jember untuk terus berkembang,” kata mantan aktivis mahasiswa ini.
Fuad Akhsan, Wakil Ketua DPRD Jember dari PKB, menghargai masukan dari semua pihak, termasuk pelaku pariwisata. “Ada masukan dari pegiat pariwisata tentang beberapa destinasi wisata yang bisa mengangkat pendapatan asli daerah (PAD) di Kabupaten Jember,” katanya.
“Jadi sektor pariwisata ini selain bisa mengangkat PAD, juga bisa mengangkat ekonomi warga sekitar. Yang terdampak bukan hanya Pemerintah Kabupaten Jember, tapi warga sekitar juga bisa terdampak langsung dengan mengangkat UMKM di sekitar lokasi pariwisata,” kara Fuad. [wir]






