Sidoarjo (beritajatim.com) – Wakil Bupati Sidoarjo, Hj. Mimik Idayana, mengajak seluruh warga untuk berperan aktif dalam upaya pencegahan banjir dengan menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan. Ia menegaskan pentingnya kerja bakti rutin di lingkungan masing-masing, khususnya dalam membersihkan saluran air.
“Saluran air di depan rumah harus rutin dibersihkan. Dengan begitu, Insya Allah hal itu juga akan mengatasi banjir. Ayo kerja bakti, kalau masyarakatnya sering kerja bakti, Insya Allah kita terbebas dari banjir,” ujar Wabup Mimik, Sabtu (21/6/2025).
Menurutnya, Sidoarjo sebagai kota delta yang terbentuk dari sedimentasi aliran Sungai Brantas sangat rentan tergenang air. Karenanya, Pemkab Sidoarjo berupaya maksimal dengan menormalisasi sungai setiap tiga bulan sekali sebagai langkah preventif.
“Alhamdulillah di beberapa titik sudah surut. Mudah-mudahan tidak banjir lagi karena Kabupaten Sidoarjo ini kota delta. Hujan sedikit banjir, tapi pemerintah akan maksimal mencegah banjir,” tambahnya.
Kepala Dinas PU Bina Marga dan Sumber Daya Air (DPUBMSDA) Sidoarjo, Dwi Eko Saptono, menegaskan bahwa normalisasi Sungai Mbah Gepuk terus dilakukan. Sungai ini melintasi kawasan Candi dan Tanggulangin yang kerap terdampak banjir akibat sedimentasi dan pertumbuhan tanaman liar seperti eceng gondok.
“Untuk tahap awal fokus pada normalisasi sepanjang dua kilometer dari Ngaban hingga Balonggabus. Kemudian pada Juli dilanjutkan sepanjang 3,8 kilometer ke jembatan Kedungpeluk Candi,” jelas Dwi.
Ia menyebutkan normalisasi mencakup pengerukan lumpur dan pembersihan tanaman liar yang menyumbat aliran sungai. Ditemukan banyak pendangkalan akibat endapan lumpur dan pertumbuhan tanaman air.
Dwi juga menyinggung banjir yang sempat menggenangi Jalan Raya Porong. Hal itu disebabkan curah hujan ekstrem yang mencapai 114 mm dalam tiga jam dan kontur tanah yang landai serta mengalami penurunan.
“Sungai-sungai besar di Sidoarjo memang kewenangan pemerintah pusat, tetapi kami tetap lakukan pendampingan teknis, seperti pembersihan dan pengangkatan tanaman liar. Di Sidokepuh ini alirannya langsung ke laut,” jelasnya.
Ia memastikan kapasitas sungai saat ini masih mampu menampung curah hujan hingga 70 mm. Namun bila intensitas lebih tinggi, air akan meluap ke permukiman dan jalan raya. Untuk itu, dua pompa dari pemerintah pusat telah disiapkan di Ketapang dan Siring sebagai bagian dari upaya pengendalian dari pesisir Mengare.
Plt. Kalaksa BPBD Sidoarjo, Sabino Mariano, menyampaikan bahwa genangan di Desa Ngaban sudah surut hampir seluruhnya. Kondisi Sungai Mbah Gepuk juga telah turun signifikan hingga memudahkan penyedotan air.
“Di Ngaban sudah surut. Selain karena pompa air di timur, kondisi sungai Mbah Gepuk juga surut sehingga memudahkan kita membuang genangan air meski saat air laut pasang,” jelas Sabino yang juga menjabat Camat Tanggulangin.
Saat ini hanya tersisa genangan di Desa Candipari dan Desa Pesawahan, Kecamatan Porong, namun air hanya setinggi 10 hingga 15 sentimeter dan terus menyusut. [isa/beq]






