Jember (beritajatim.com) – Wakil Bupati Djoko Susanto menyebut anggaran menjadi problem pengelolaan sampah di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Dia ingin mulai ada perhatian serius terhadap pengelolaan sampah di Jember.
“Sebenarnya secara teknologi kita sudah punya (alat) untuk pengelolaan sampah. Cuma problemnya ada di anggaran dan komponen pendukung,” kata Djoko, Rabu (5/3/2025).
Berdasarkan hasil diskusi dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jember, menurut Djoko, pengelolaan sampah di Jember masih membutuhkan tenaga pemilah dan hangar untuk menempatkan alat pengolah. “(Untuk hangar) membutuhkan space lahan juga,” katanya.
Banyaknya sampah yang tidak terolah dan dibuang sembarangan oleh masyarakat menyebabkan gorong-gorong atau saluran air di Pasar Arjasa tersumbat. “Saya sudah komunikasikan dengan Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga agar segera diperbaiki sementara,” kata Djoko.
Djoko menyadari perbaikan permanen membutuhkan waktu dan biaya besar. “Perbaikan sementara agar berfungsi dululah. Kalau bicara perbaikan total, mungkin kita harus menengok anggaran dulu. Yang penting tidak menganggu masyarakat. Biasanya selama Ramadan masyarakat butuh jalan-jalan. Jadi harus nyaman,” katanya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jember Sugiyarto sempat menyampaikan, saat ini ketinggian sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) di Kecamatan Pakusari mencapai 26 meter. Lima tahun lagi TPA itu diperkirakan tidak akan mampu lagi menampung sampah.
Dengan 2,6 juta orang penduduk di Jember, maka potensi timbunan sampah diperkirakan mencapai 1.300 ton per hari. Dinas LH Jember lebih berfokus pada kawasan perkotaan dan hanya bisa mengangkut 460 ton sampah per hari.
Rencananya, Dinas Lingkungan Hidup Jember akan membangun empat TPST, yakni di Kecamatan Tanggul, Balung, Kencong, dan Ambulu. Dinas LH memiliki empat unit mesin pemilah dan pengolah sampah dan membutuhkan hangar untuk menempatkan mesin supaya tidak kehujanan dan menampung hasil pengolahan sebelum dijual. [wir]






