Ngawi (beritajatim.com) – Sejumlah sapi milik warga di Ngawi, Jawa Timur, dilaporkan mati mendadak akibat diduga terinfeksi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Wabah yang mulai menyerang ternak di wilayah ini sejak dua pekan terakhir telah menimbulkan kerugian besar bagi para peternak.
Kasus terbaru terjadi di Desa Bangunrejo Lor, Kecamatan Pitu, Ngawi, pada Sabtu, 28 Desember 2024. Seekor anak sapi berusia 9 bulan, milik Tikno (70), mati mendadak setelah sebelumnya menunjukkan gejala tidak mau makan dan lemah. Anak sapi tersebut, yang bernilai belasan juta rupiah, diduga kuat terinfeksi PMK. Saat ini, Tikno bersama keluarganya terus berusaha menyelamatkan tiga sapi lainnya yang masih sakit.
Tidak hanya Tikno, puluhan sapi milik warga di desa tersebut juga menunjukkan gejala serupa. Sementara itu, di Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar, dua ekor sapi milik Suyono (73) mati mendadak akibat PMK pada Jumat dan Sabtu, 27-28 Desember 2024. Kedua sapi tersebut, yang bernilai total Rp30 juta, langsung dikuburkan di belakang rumah untuk mencegah penyebaran penyakit.
Aini, anak dari pemilik sapi yang terinfeksi, menjelaskan bahwa sapi-sapi yang sakit awalnya menunjukkan gejala seperti keluarnya air liur berlebihan dan luka di kuku. Sementara itu, Suyono mengungkapkan kerugian besar yang dialaminya. “Anak sapi saya mati duluan, lalu sehari kemudian induknya yang sedang hamil juga mati. Total kerugian mencapai Rp30 juta,” tuturnya.
Tardi, Kepala Desa Bangunrejo Lor, meminta pemerintah segera turun tangan menangani wabah ini.
“Ratusan sapi di desa kami terserang PMK. Kalau dijual saat sakit, harganya sangat murah. Tapi kalau dipertahankan, sapi-sapi ini bisa mati,” katanya.
Hingga saat ini, warga telah melaporkan kasus kematian sapi dan penjualan paksa dengan harga rendah ke Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Ngawi. Namun, belum ada tindakan konkret yang dilakukan. Berdasarkan data terbaru, sebanyak 125 ternak sapi di Ngawi terinfeksi PMK, dengan 35 di antaranya mati mendadak.
Wabah PMK yang menyerang Ngawi ini menyoroti perlunya langkah cepat dari pemerintah untuk mencegah kerugian lebih besar. Edukasi kepada peternak tentang gejala dan pencegahan PMK, distribusi vaksin, serta tindakan medis yang tepat sangat diperlukan agar wabah ini tidak meluas ke daerah lain. [fiq/aje]






