Malang (beritajatim.com) – Berkunjung ke Kelenteng Eng An Kiong di Kota Malang sekarang bisa dilakukan dengan virtual field trip. Inovasi itu diciptakan oleh mahasiswa Program Studi Sastra Cina dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB), Dinda Ayu Anggraeni.
Dinda, sapaannya, merintis inovasi diplomasi digital demi mempererat hubungan antara Indonesia dan Tiongkok. Diplomasi digital adalah pendekatan modern dalam diplomasi, menggunakan teknologi dan media online untuk mendukung dan memperluas kegiatan diplomasi tradisional.
Menurut Dinda, untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045 dan memanfaatkan bonus demografi, calon tenaga kerja harus dilengkapi dengan pemahaman lintas budaya. Namun, kurangnya pemahaman lintas budaya bisa menimbulkan penafsiran salah dan konflik antarbudaya, yang dapat menghambat hubungan bilateral.
“Hasil penelitian dan pengembangan media virtual field trip saya hibahkan kepada Kelenteng Eng An Kiong sebagai bentuk komitmen terhadap keberlanjutan proyek. Media ini bisa diakses langsung di kelenteng atau melalui peramban Chrome dengan tautan bit.ly/engankiong,” ujar Dinda, Selasa (16/7/2024).
Dengan adanya inovasi ini, mahasiswa FIB UB ini berharap wisata budaya di Malang semakin kaya. Selain itu diharapkan dapat terjadi kesepahaman lintas budaya di Indonesia meningkat yang pada gilirannya dapat mempercepat hubungan bilateral antara Indonesia dan Tiongkok.
“Inovasi saya membuktikan bahwa diplomasi digital dapat menjadi alat efektif dalam mempererat hubungan antara dua negara melalui pemahaman budaya yang lebih inklusif dan mendalam. Teknologi bisa menjadi jembatan penting dalam diplomasi budaya,” jelas Dinda.

Dengan memperkenalkan virtual field trip ini, Dinda berharap dapat menyebarkan pengetahuan tentang kelenteng dan budaya Tionghoa lebih luas lagi, sesuai dengan visi Indonesia Emas 2045 yang menekankan pentingnya pemahaman lintas budaya.
Sebagai informasi, Klenteng Eng An Kiong di Kota Malang merupakan situs bersejarah yang merepresentasikan budaya Tionghoa di Indonesia. Dinda berusaha meningkatkan kesadaran publik tentang warisan budaya Tionghoa di Indonesia. Ia sukses memperkuat hubungan bilateral dengan pemahaman budaya.
Kelenteng Eng An Kiong, hampir berusia dua abad, menjadi simbol kekayaan budaya Tionghoa di Malang. Ketua Yayasan Kelenteng Eng An Kiong, Rudi Phan, menyambut dengan baik proyek pengembangan warisan budaya ini.
Ia membantu Dinda dalam penelitiannya dengan mengenalkan lebih dalam Kelenteng Eng An Kiong dan hal-hal menarik di dalamnya. Rudi berharap inovasi ini dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap budaya Tionghoa dan memperkuat hubungan bilateral melalui pemahaman lintas budaya.
Proyek ini dikembangkan dengan bimbingan dosen Ressi Maulidina Delijar, S.S., M.Li., Diah Ayu Wulan, M.Pd., dan peneliti M. Naufal Islam, S.Pd. Validasi dilakukan oleh sejumlah ahli seperti Rafsanjaya Mahaputra, S.Pd., dan M. Naufal Islam, S.Pd. sebagai validator ahli media, Wishnu Mahendra.W., S.IP., M.Si., sebagai validator ahli hubungan internasional, serta Cahyo Ramadhan Pratama, MTCSOL, sebagai validator materi. (dan/ian)






