Surabaya (beritajatim.com) – Belakangan ini, TikTok diramaikan oleh tren “kesenjangan sosial” yang menampilkan percakapan jenaka antara dua individu dengan latar belakang ekonomi berbeda.
Meskipun dikemas secara humoris, tren ini menyentil realitas perbedaan kelas sosial yang ada di masyarakat.
Apa Itu Tren “Kesenjangan Sosial”?
Tren ini biasanya berupa dialog ringan antara dua orang yang tampaknya sedang dalam tahap pendekatan. Namun, perbedaan latar belakang ekonomi mereka menciptakan kesalahpahaman yang lucu sekaligus menyedihkan.
Pada akhir video, muncul tulisan “(Kesenjangan Sosial)” dengan iringan lagu Just a Friend to You dari Meghan Trainor, mewakili absurditas dari peristiwa tersebut.
Contoh Konten yang Viral
Beberapa contoh percakapan dalam tren ini antara lain:
A: “Kamu mau makan all you can eat?”
B: “Yes, I can”
A: “Bentar ya, aku mau mancing dulu.”
B: “Mancing ikan?”
A: “Mancing sanyo (pompa air).”
A: “Kok baju ditaruh di lantai?”
B: “Bukan, itu keset.”
Dialog-dialog ini mencerminkan perbedaan kebiasaan hidup yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, meski tidak sesuai dengan arti lagu yang digunakan. Beberapa konten kreator terkenal seperti @aziarizzza, @sastra.silalahii, dan @julllsaurus ikut meramaikan tren ini.
Makna Tersembunyi di Balik Humor
Meskipun dikemas dengan humor, tren ini menyentil realitas perbedaan kelas sosial yang ada di masyarakat. Alih-alih disebut bully dan melakukan kekerasan simbolik, tren kesenjangan sosial justru menghadirkan percakapan jenaka atau humor yang disukai masyarakat.
Makna tersirat dalam tren ini sangat dalam bila kita melihatnya lebih dari sekadar hiburan. Humor yang digunakan tidak bertujuan untuk mempermalukan, tetapi mengajak audiens untuk merenung dan melihat kembali bagaimana standar hidup, kebiasaan, dan akses terhadap fasilitas dasar bisa berbeda sangat jauh antarindividu.
Tidak hanya itu,, beberapa pengguna menyebutkan bahwa tren ini juga merepresentasikan realitas pahit yang dialami oleh pasangan dari kelas ekonomi berbeda. Terkadang cinta saja tidak cukup untuk menyatukan dua orang ketika latar belakang sosial dan ekonomi menjadi penghalang yang sangat besar.
Dampak Sosial dan Refleksi
Tren ini juga menunjukkan bagaimana media sosial memperlihatkan dan memperkuat kesenjangan sosial dalam bentuk:
Flexing & Gaya Hidup Mewah
Banyak orang memamerkan kekayaan, tas mewah, liburan ke luar negeri, yang dapat membuat orang lain merasa “ketinggalan” atau iri.
Akses Informasi yang Tidak Merata
Tidak semua daerah memiliki akses internet cepat, padahal informasi, peluang kerja, dan pendidikan makin tergantung internet.
Tren ini juga mengundang banyak komentar dari warganet seperti komentar dari akun @alm***, yang mengatakan:
“trend kesenjangan sosial ini sangat menghibur kemiskinanku”
“Malu tapi lucu bangat ih tren kesenjangan sosial”, kata akun @tru*****
Walaupun terlihat ringan dan mengundang tawa, tren “kesenjangan sosial” yang ramai di TikTok merupakan potret nyata dari realita masyarakat kita saat ini. Ia menggambarkan bagaimana jurang antara si “punya” dan si “tidak punya” masih menjadi tema yang relevan dan menyentuh.
Melalui platform seperti TikTok, para kreator tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membuka ruang bagi diskusi, refleksi, dan pemahaman yang lebih dalam tentang keadilan sosial, empati, dan pentingnya melihat dari sudut pandang orang lain.
Tren “kesenjangan sosial” di TikTok, meskipun dikemas secara humoris, menyentil realitas perbedaan kelas sosial yang ada di masyarakat. Dengan memahami makna di balik tren ini, kita diajak untuk lebih peka terhadap isu-isu sosial yang ada di sekitar kita. [aje]






