Surabaya (beritajatim.com) – Vaksin influenza dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk menekan risiko flu berat atau superflu, yang belakangan dikaitkan dengan varian influenza A H3N2. Varian influenza H3N2 yang telah ditemukan di Indonesia disebut berpotensi menimbulkan gejala lebih cepat dan lebih berat dibanding flu biasa.
Pakar Imunologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) dr Agung Dwi Wahyu Widodo menyebut superflu mulai ramai dibicarakan sejak pertengahan 2025 seiring dengan penyebarannya yang sangat cepat di masyarakat. Pada kasus tertentu, gejala influenza dapat muncul hanya dalam satu hari setelah terpapar virus.
“Disebut superflu karena penularannya sangat cepat dan durasi sakitnya bisa lebih lama, sampai sekitar 10 hari,” kata Agung, Sabtu (3/1/2026).
Ia menjelaskan, berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan, terdapat dua subtipe influenza A yang saat ini beredar pada manusia, yakni H1N1 dan H3N2. Dari kedua subtipe tersebut, influenza H3N2 telah terdeteksi di Indonesia dan kerap dikaitkan dengan kasus influenza yang lebih berat.
Menurut Agung, influenza H3N2 memiliki potensi epidemi, terutama di wilayah tropis seperti Indonesia. Faktor cuaca yang tidak menentu membuat virus influenza berpeluang beredar sepanjang tahun, sehingga meningkatkan risiko penularan di tingkat komunitas.
Dalam kondisi tersebut, vaksin influenza dinilai memegang peran penting, khususnya bagi kelompok rentan. Agung menyebut bayi, anak-anak, dan lansia memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi apabila terinfeksi influenza.
Risiko serupa juga dihadapi oleh penderita penyakit penyerta atau komorbid seperti asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), diabetes, serta penyakit kardiovaskular. “Komplikasi bisa berupa infeksi paru berat, bahkan berujung kematian, terutama pada kelompok risiko,” ujarnya.
Terkait efektivitas vaksin influenza, Agung menjelaskan bahwa perlindungan vaksin bersifat terbatas dan umumnya kurang dari satu tahun. Oleh karena itu, vaksin influenza perlu diberikan secara rutin setiap tahun untuk menjaga perlindungan optimal terhadap flu berat.
“Respons imun berbeda pada anak-anak, dewasa, dan lansia, tapi vaksin tetap menurunkan risiko flu berat,” kata Agung.
Di Indonesia, vaksin influenza belum menjadi program wajib. Meski demikian, vaksin flu sangat dianjurkan bagi kelompok berisiko tinggi, termasuk anak-anak, lansia, serta ibu hamil, untuk menekan dampak klinis apabila terinfeksi influenza.
Selain vaksinasi influenza, Agung menekankan pentingnya penerapan perilaku pencegahan lainnya, seperti penggunaan masker di tempat ramai, mencuci tangan secara rutin, serta beristirahat di rumah saat sakit. Virus influenza dapat masuk ke dalam tubuh melalui mulut, hidung, dan mata, sehingga proteksi dasar tetap diperlukan.
Ia juga mengingatkan pentingnya etika batuk dan bersin di ruang publik. Batuk dan bersin tanpa perlindungan dapat menyebarkan virus hingga jarak dua sampai tiga meter dan mempercepat penularan influenza.
Dari sisi kebijakan, Agung menilai pemerintah perlu memperkuat edukasi publik terkait vaksin influenza dan pencegahan penularan superflu. Edukasi yang tepat dinilai penting agar masyarakat memahami manfaat vaksin tanpa menimbulkan kepanikan.
Selain itu, penguatan surveilans influenza serta kesiapan fasilitas layanan kesehatan perlu terus ditingkatkan untuk mengantisipasi potensi lonjakan kasus, terutama pada periode cuaca ekstrem.
“Vaksinasi dan proteksi pribadi adalah kunci. Jika individu terlindungi, maka komunitas juga ikut terlindungi,” ujarnya. [ipl/beq]






