Pamekasan (beritajatim.com) – Penyebaran kasus campak di kabupaten Pamekasan, relatif tinggi dan mencapai angka sebanyak 891 kasus, terhitung sejak 9 bulan terakhir, yakni sejak Januari hingga 1 Oktober 2025.
Berdasar data Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan, dari total angka suspek campak yang mencapai angka hampir seribu kasus, sebanyak 178 orang di antaranya dinyatakan positif campak, dan 9 di antaranya meninggal dunia.
Dari angka tersebut, sebanyak 830 orang dinyatakan sembuh, dan 52 orang lainnya masih menjalani perawatan di berbagai fasilitas kesehatan di wilayah setempat. “Sampai 1 Oktober 2025, kasus suspek campak sebanyak 891 kasus dengan 178 kasus positif campak, dan 9 kematian atau 1,01 persen,” kata Kepala Dinkes Pamekasan, dr Saifuddin, Jum’at (3/10/2025).
“Dari total kasus ini, tersebar di 13 kecamatan berbeda di Pamekasan. Terdapat tiga kecamatan dengan penemuan kasus suspek tinggi, yakni Proppo dengan total 146 kasus, Pamekasan (Kota) dengan total 111 kasus, dan Pademawu 98 kasus,” ungkapnya.
Sementara untuk ukuran frekuensi kejadian baru kasus campak, tersebar di lima kecamatan berbeda, masing-masing kecamatan Proppo, Tlanakan, Kadur, Pamekasan (Kota), dan Pademawu.
“Untuk kasus 9 pasien campak meninggal dunia, berasal dari tujuh kecamatan berbeda, yakni kecamatan Proppo dan Pasean, masing-masing 2 orang. Sedangkan 5 orang lainnya berasal dari Waru, Tlanakan, Pagantenan, Batumarmar, dan Larangan,” jelasnya.
Guna mengantisipasi sekaligus memutus rantai penyebaran kasus tersebut, Dinkes Pamekasan, juga melakukan berbagai langkah dan upaya secara massif, mulai dari investigasi, sosialisasi, pengawasan, hingga imunisasi massal.
Bahkan dalam berbagai kesempatan, Dinkes Pamekasan, juga mengimbau masyarakat untuk melindungi anak mereka dari penyakit campak, salah satunya dengan cara memberikan vaksin bagi anak sesuai ketentuan yang berlaku. [pin/suf]






