Pamekasan (beritajatim.com) – Upaya mewujudkan Madura Provinsi dinilai tidak semudah membalikkan telapak tangan, sekalipun beragam cara maupun strategi sudah dilakukan sejumlah pihak untuk mewujudkannya.
Hal tersebut disampaikan Ketua KADIN Pamekasan, Harisandi Savari dalam Musyawarah Tokoh Madura dan AJP Appreciatoin yang digagas Aliansi Jurnalis Pamekasan (AJP), di Ballroom Azana Style Hotel Jl Jokotole 282 Pamekasan, Jum’at (19/7/2024).
Bahkan dalam kesempatan tersebut, pria yang terpilih sebagai anggota DPRD Jawa Timur, Periode 2024-2029, juga menilai jika Madura Provinsi masih membutuhkan kajian secara menyeluruh dalam beragam macam sektor, termasuk di antaranya sektor ekonomi.
“Madura Provinsi, tentunya terlebih dahulu harus melihat beragam potensi dari Madura, salah satunya potensi sektor ekonomi. Sebab kami meyakini jika pertumbuhan UMKM dapat menjadi salah satu sumber kekuatan utama,” kata Harisandi Savari.
Ungkapan tersebut bukan tidak mendasar, sebab sejauh ini perkembangan sektor ekonomi masih terpusat di Pulau Jawa. “Ekonomi sejak era kemerdekaan (Indonesia) selalu terpusat di Jawa,” ungkapnya.
“Kenapa hal itu terjadi, beberapa indikator di antaranya karena faktor jumlah penduduk, transformasi sosial hingga hiburan. Apakah Madura mencakupi semua itu, kalau di Pamekasan hiburan saja ribet, bagaimana jadi provinsi,” imbuhnya.
Tidak hanya itu, politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu juga mengupas secara singkat sektor ekonomi di Indonesia. “Kenapa Jawa selalu menjadi pusat perekonomian, mulai dari era Majapahit hingga VOC pada 1916 yang juga berada di Jawa, tepatnya di Batavia,” jelasnya.
“Saat ini kembali muncul pertanyaan, apakah Madura mampu. Tentunya hal ini perlu untuk kembali kita diskusikan, apalagi saat ini juga ada prioritas jika pertumbuhan ekonomi setiap daerah harus 5 persen, karena adanya orientasi Indonesia Emas pada 2045 mendatang,” pungkasnya. [pin/ian]






