Surabaya (beritajatim.com) – Program Studi Arsitektur Universitas Ciputra (ARS UC) terus menunjukkan kepemimpinan akademik di tingkat global dengan menjadi inisiator dan tuan rumah ajang internasional Bamboo Nation. Forum ini menjadi wadah eksplorasi bambu sebagai material konstruksi masa depan yang menggabungkan teknologi digital, keberlanjutan, dan pendekatan desain kontemporer.
Digelar pada 3–5 Agustus 2025, Bamboo Nation melibatkan kolaborasi antara tiga perguruan tinggi anggota Asosiasi Pendidikan Tinggi Arsitektur Indonesia (APTARI), yakni Universitas Ciputra, Universitas Katolik Parahyangan, dan Universitas Kristen Petra, serta Xi’an Jiaotong-Liverpool University (XJTLU) dari Tiongkok.
Mengusung tema kinetic bamboo structure, forum ini menampilkan pendekatan mutakhir seperti desain parametrik, simulasi struktural, dan fabrikasi digital. Hari pertama diselenggarakan di Universitas Kristen Petra, sedangkan hari kedua dan ketiga berlangsung di Universitas Ciputra, termasuk sesi workshop dan pembangunan struktur eksperimental berbasis bambu.
“Kami ingin membuktikan bahwa bambu bukan sekadar material tradisional, tetapi memiliki potensi sebagai engineered material yang mampu bersaing secara global,” tegas Kepala Program Studi Arsitektur Universitas Ciputra, Melania Rahadiyanti, Rabu (6/8/2025).
ARS UC tak hanya menyumbang gagasan, tetapi juga memfasilitasi langsung proses perancangan dan pembangunan paviliun bambu dengan sistem kinetik. Proyek ini memanfaatkan laboratorium fabrikasi digital kampus, memungkinkan mahasiswa dan dosen menguji presisi bentuk serta respons struktur melalui teknologi desain.
Salah satu pemateri kunci, Stephanus Evert Indrawan, dosen dan pakar arsitektur digital Universitas Ciputra, menyampaikan pendekatan adaptive joinery system, yaitu sistem sambungan adaptif bambu untuk menciptakan struktur responsif, terutama di wilayah rawan bencana.
“Dengan karakteristik fleksibel yang dimiliki bambu, ditambah desain parametrik dan fabrikasi digital, kita bisa menciptakan struktur yang efisien, presisi, dan ramah lingkungan,” ujar Evert.
Ia menambahkan bahwa pengembangan bambu sebagai material konstruksi perlu didorong melalui riset kolaboratif lintas disiplin dan pemanfaatan teknologi digital. Indonesia, sebagai negara tropis dengan kekayaan spesies bambu, memiliki potensi besar untuk memimpin inovasi ini di kancah global.
Dorong SDGs dan Inovasi Lokal
Partisipasi aktif ARS UC dalam Bamboo Nation sejalan dengan komitmen kampus terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama poin SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) dan SDG 12 (Responsible Consumption and Production).
Bambu dinilai sebagai material yang cepat tumbuh, rendah emisi karbon, dan mudah diperbarui, karakteristik yang menjadikannya material ideal untuk arsitektur masa depan.
“Bambu dapat menjadi setara dengan serat karbon dalam konteks keberlanjutan, jika dipadukan dengan sistem desain digital dan pendekatan fabrikasi modern,” tambah Melania.
Bamboo Nation juga menjadi ajang pertukaran gagasan antara arsitek, desainer, dan akademisi dari berbagai negara. Forum ini memperkuat posisi Indonesia dalam peta arsitektur berkelanjutan dunia dan menunjukkan keseriusan Universitas Ciputra dalam membangun jejaring internasional untuk riset dan pengembangan material lokal berbasis teknologi. [ipl/beq]






