Jember (beritajatim.com) – Universitas PGRI Argopuro (Unipar) di Kabupaten Jember, Jawa Timur, mengklaim memiliki mahasiswa disabilitas terbanyak di Indonesia. Sebanyak 53 orang di antaranya menerima beasiswa dari Pemerintah Kabupaten Jember.
Total ada 565 mahasiswa Unipar yang menerima beasiswa dari Pemkab Jember pada 2025. 167 mahasiswa masuk kategori penerima beasiswa afirmasi ekonomi, 267 mahasiswa kategori guru dan perangkat desa, 19 mahasiswa kategori khusus, enam mahasiswa kategori prestasi, dan 106 mahasiswa kategori santri pondok pesantren dan tahfidz Quran/
Wakil Rektor Bidang Keuangan, Kepegawaian, dan Sarana-Prasarana Unipar David Susilo mengatakan, ada 311 mahasiswa disabilitas semua kategori kecuali grahita di Unipar. “Posisi kedua baru UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) Bandung,” katanya, Kamis (29/1/2026).
Tak hanya mahasiswa. Wakil Rektor Unipar Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerjasama dijabat seorang penyandang disabilitas yang tidak memiliki sepasang kaki sejak lahir, Asrorul Mais.
Ramahnya Unipar terhadap penyandang disabilitas terlihat dari tidak adanya persyaratan sehat jasamni dan rohani pada calon mahasiswa. “Artinya ukuran bentuk tubuh tidak dijadikan ee standarisasi untuk lulus tidaknya mahasiswa tersebut di perguruan tinggi,” kata David.
Keistimewaan ini yang membuat Unipar diminati penyandang disabilitas dari luar Jawa. Sejumlah mahasiswa berkebutuhan khusus di Unipar berasal dari Aceh, Papua, Kalimantan, dan Nusa Tenggara Timur. Sebagian besar kuliah di Program Studi Pendidikan Luar Biasa. Lulusannya memenuhi kebutuhan guru di sekolah luar biasa..
Banyaknya mahasiswa disabilitas ini, menurut David, tak lepas dari keinginan Unipar untuk memeratakan akses pendidikan tinggi. “Kami sudah mulai membuka program studi PLB sejak 2010. Tapi jumlah peminatnya sedikit karena pada waktu itu ada keterbatasan informasi orang tua dan masyarakat yang masih belum percaya diri untuk menguliahkan anak mereka,” katanya.
Hambatan psikologis ini dari waktu ke waktu mulai hilang. Civitas akademika Unipar terus meyakinkan masyarakat penyandang disabilitas untuk kuliah di sana.
“Kami tidak membedakan layanan antara yang disabilitas maupun yang tidak disabilitas. Inklusif. Pelayanannya sama, meskipun secara akses infrastruktur,, sarana-prasarana memang masih belum ideal. Tetapi kami sudah bisa membangun ekosistem infrastruktur sosialnya,” kata David. [wir]






