Surabaya (beritajatim.com) – Alunan merdu tembang Jawa Timur dan diskusi mendalam tentang budaya Osing menjadi pemandangan tak biasa dalam sebuah pelatihan pengembangan kapasitas sekolah. Namun, itulah yang terjadi di SMA Muhammadiyah 2 Genteng, Banyuwangi, saat 34 kepala sekolah SMA swasta berkumpul untuk mengikuti pelatihan yang digagas oleh Tim PKM FIP Unesa.
“Pelatihan ini bukan hanya tentang teori manajemen sekolah. Kami ingin para kepala sekolah menggali potensi kearifan lokal Banyuwangi, seperti budaya Osing, dan mengintegrasikannya dalam pengembangan sekolah,” ujar Ketua Tim PKM FIP Unesa, Syunu Trihantoyo, Selasa (16/7/2024).
Pelatihan ini didasari oleh keprihatinan terhadap keterbatasan kompetensi guru, terutama dalam bidang kearifan lokal. Oleh karena itu, pelatihan ini memadukan pendekatan teoritis dan praktis.
Para peserta diajak untuk melakukan analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) terhadap sekolah mereka. Kemudian, mereka diajak untuk menggali nilai-nilai kearifan lokal Banyuwangi yang dapat memperkuat sekolah mereka.
Sesi nembang bersama menjadi salah satu momen yang paling berkesan bagi para peserta.
“Melalui nembang, kami diajak untuk merasakan keindahan dan kedalaman budaya Banyuwangi. Ini menjadi pengingat bahwa kearifan lokal adalah aset berharga yang dapat memperkaya proses pendidikan,” ujar Hari Prasmono, Ketua MKKS SMA Swasta Kabupaten Banyuwangi.
Pelatihan ini juga menjadi ajang berbagi pengalaman dan solusi atas permasalahan yang dihadapi sekolah masing-masing.
“Kami berharap pelatihan ini dapat menjadi titik awal transformasi sekolah-sekolah di Banyuwangi menjadi lembaga pendidikan yang berbudaya, berkarakter, dan berprestasi,” pungkas dia. [asg/but]






