Surabaya (beritajatim.com) – Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) membantu meningkatkan kompetensi guru dalam pengelolaan kelas inklusif di SMAN 19 Surabaya. Tim PKM ini dipimpin oleh Supriyanto S.Pd.,M.Pd beranggotakan Ima Kurrotun Ainin, S.Pd.,M.Pd; Acep Novel Novari Beny,M.Pd; dan Dr. Wiryo Nuryono, S.Pd.,M.Pd di SMAN 19 Surabaya pada 4 Juli 2024 lalu.
Menurut Supriyanto, SMA Negeri 19 Surabaya, memiliki sarana prasarana yang sederhana dan kualitas SDM guru yang tergolong menengah, SMA N 19 Surabaya menjadi salah satu penyedia pendidikan inklusif di Surabaya.
”SMA N 19 Surabaya menghadapi tantangan besar dalam mengelola kelas inklusif, di mana siswa dengan kebutuhan khusus belajar bersama dengan siswa reguler. Studi pendahuluan menunjukkan bahwa banyak guru di sekolah ini masih kebingungan dalam mengelola kelas semacam itu. Metode pengajaran konvensional yang diterapkan sering kali tidak optimal, sehingga berdampak pada pengalaman belajar siswa, baik reguler maupun berkebutuhan khusus,” terang Supriyanto, Sabtu (18/11/2024)
Namun, kelas inklusif memiliki potensi besar. Menurut beberapa penelitian, kelas inklusif dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis, komunikasi, dan kerja sama siswa. Selain itu, suasana kelas yang heterogen membantu siswa belajar menghargai keberagaman, membangun toleransi, dan mempersiapkan mereka untuk hidup di masyarakat yang majemuk.
”Untuk mengatasi masalah ini, Universitas Negeri Surabaya (UNESA) melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) menawarkan solusi berupa pelatihan bagi para guru di SMA N 19 Surabaya. Program ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola kelas inklusif secara efektif,” kata Supriyanto.
Pelatihan dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu:
1. Persiapan dan Analisis Kebutuhan
Mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi guru melalui survei dan diskusi.
2. Pemaparan Materi
Materi meliputi identifikasi kebutuhan siswa berkebutuhan khusus, penyusunan program pembelajaran individual, akomodasi kurikulum, serta prinsip-prinsip pengelolaan kelas inklusif.
3. Praktik dan Pendampingan
Guru akan mempraktikkan keterampilan yang dipelajari dengan bimbingan dari tim ahli.
4. Evaluasi dan Presentasi
Guru menyusun konsep pengelolaan kelas inklusif dan mempresentasikannya untuk mendapatkan masukan.
”Pelatihan dilakukan secara tatap muka di SMA N 19 Surabaya. Metode ini dipilih untuk memastikan efektivitas pembelajaran teori dan praktik. Evaluasi dilakukan melalui kuesioner untuk mengukur peningkatan kompetensi guru dan memberikan tindak lanjut bagi keberlanjutan program,” lanjut Supriyanto.
”Dengan pelatihan ini, SMAN 19 Surabaya diharapkan menjadi sekolah percontohan dalam pengelolaan kelas inklusif di wilayah Surabaya. Hal ini tidak hanya meningkatkan kualitas pendidikan, tetapi juga mempersiapkan siswa untuk menjadi individu yang toleran, mandiri, dan siap menghadapi tantangan dunia modern. Dengan dedikasi para guru, dukungan UNESA, dan semangat inklusivitas, SMA N 19 Surabaya dapat mewujudkan potensi besar yang dimiliki setiap siswa, tanpa terkecuali,” pungkasnya. [fiq/beq]






