Sumenep (beritajatim.com) – Kayu Santigi mungkin belum sepopuler kayu jati. Namun, kayu ini punya keistimewaan yang tidak dimiliki jenis kayu lain.
Di Kabupaten Sumenep, kayu santigi menjadi salah satu komoditas yang tumbuh subur di Pulau Pagerungan Besar, Kecamatan Sapeken.
Konon kayu santigi ini merupakan pengusir ular yang cukup ampuh. Ketika binatang melata itu datang, kayu santigi diyakini mampu membuat ular ‘keok’.
Namun kayu santigi kini tidak lagi sebatas pada kayu pengusir ular. Santigi kini bisa disulap menjadi miniatur kapal pinishi, gelang, tasbih, tongkat, dan beberapa kerajinan lain. Karya ini tidak ‘kaleng-kaleng’, karena mampu menembus pasar luar negeri seperti Australia dan Malaysia.
Salah satu perajin kayu santigi yang terbilang sukses mengembangkan kerajinan ini adalah Dayat. Ia mempelopori UMKM Santigi di Pulau Pagerungan Besar, Kecamatan Sapeken. Saat ini ia mempunyai 6 kelompok perajin santigi.
Sukses yang ia capai sekarang tidak datang serta merta. Ia mulai menekuni kerajinan santigi sebelum tahun 2000. Kala itu ia baru saja lulus sekolah dasar. Keinginannya untuk melanjutkan sekolah terpaksa harus ia kubur karena keadaan.
Di Pulau Pagerungan saat itu jenjang sekolah yang ada hanya TK dan SD. Apabila ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, maka warga setempat harus menyeberang ke Pulau Sapeken, ibu kota Kecamatan. Perlu waktu sekitar dua jam perjalanan perahu untuk menyeberang dari Pulau Pagerungan Besar ke Pulau Sapeken.
Sebagai anak tertua dari 5 bersaudara, Dayat harus menyadari bahwa kondisi itu tidak mudah. Masih ada 4 adiknya yang juga perlu biaya. Karena itu, ia memilih untuk tidak melanjutkan sekolah, dan membantu usaha ayahnya sebagai perajin kayu santigi.
“Ya mau gimana lagi? Kondisinya memang begitu. Mau sekolah SMP saat itu harus menyeberang jauh, karena belum ada sekolah setingkat SMP di Pagerungan Besar. Akhirnya saya pilih bantu-bantu bapak di rumah, bikin kerajinan santigi yang memang merupakan usaha keluarga,” tuturnya.
Sejak itu, dayat kecil yang punya tekat besar untuk memperbaiki ekonomi keluarga, mulai serius belajar kerajinan santigi. Ia yang sudah punya dasar ketrampilan, tidak terlalu sulit beradaptasi dan memproduksi kerajinan santigi.
Hingga di tahun 2000, Kangean Energy Indonesia (KEI), tertarik menjadikan UMKM Santigi sebagai UMKM binaan. Saat itu bisa disebut sebagai momentum awal perubahan nasib UMKM Santigi. Bantuan demi bantuan, perhatian demi perhatian, terus mengalir dari Kangean Energy Indonesia. Semangatnya satu. Ingin melihat UMKM di wilayah operasi KEI, maju dan berkembang.
“Kami cukup banyak dibantu KEI, mulai dari peralatan hingga ketrampilan. Warga disini diberi pelatihan tentang pembuatan kerajinan santigi,” ujar Dayat.
Sejak menjadi UMKM binaan KEI, Dayat mengaku ada perubahan cukup drastis. Yang awalnya kesulitan produksi karena minimnya peralatan, sekarang lebih mudah memproduksi kerajinan karena peralatan lengkap bantuan dari KEI.
“Jadi dulu kalau bikin satu tasbih bisa berhari-hari, sekarang karena sudah dibantu peralatan, satu hari bisa produksi tiga tasbih,” terangnya.
Kendala terbesarnya hingga saat ini adalah terbatasnya pasokan listrik ke Pulau Pagerungan. Jatah 2 ampere harus berbagi dengan beberapa rumah tangga.
“Karena listriknya terbatas, ya harus gantian. Harus diatur supaya jatah 2 ampere itu cukup dibagi-bagi dengan tetangga,” tuturnya.
Dayat menyadari betul bahwa pohon santigi itu merupakan salah satu komoditi yang dilindungi oleh negara, mengingat jumlahnya yang tidak lagi banyak. Karena itu, ia memilih untuk menggunakan kayu santigi yang sudah mati untuk membuat aneka kerajinan. Karena itu, beberapa pihak menyebut UMKM ini mengolah limbah kayu santigi.
“Kami bukan perusak lingkungan. Kami memproduksi kerajinan ini dari pohon santigi yang sudah mati. Bukan menebang pohon yang masih hidup. Malah kami ini ikut membudidayakan tanam pohon santigi,” paparnya.
Dayat kemudian bercerita tentang tidak mudahnya memasarkan kerajinan kayu santigi. Selama ini, pemasaran yang dia jalankan hanya dari mulut ke mulut. Selain itu, pemasaran juga dibantu KEI dengan mengikutsertakan UMKM Santigi ke pameran-pameran di sejumlah kota.
“Alhamdulillah, pesanan selalu ada. Ada yang pelanggan baru, ada yang pelanggan setia karena dia pecinta santigi,” ucapnya.
Hingga di 2022, Dayat mencoba teknik pemasaran baru, yakni melalui online. Ia memasarkan kerajinan kayu santigi melalui salah satu e-commerce.
“Setelah memasarkan secara online, Alhamdulillah pemesanan makin banyak. Omset juga meningkat. Pernah tembus ke Rp 30 juta dalam sebulan,” ungkapnya.
Apabila tidak ada pesanan, lanjutnya, ia hanya memproduksi gelang dan tasbih. Sesekali juga memproduksi tongkat.
“Kalau miniatur baru dibuat ketika ada pesanan. Kayak kemarin dari Australia pesan miniatur kapal pinishi. Ada juga yang pesan miniatur kapal nelayan khas Pulau Pagerungan,” terangnya.
Sementara Manager Public Government Affair (PGA) Kangean Energy Indonesia, Kampoi Naibaho mengaku tertarik melakukan pendampingan dan pembinaan UMKM Santigi karena merupakan kayu langka.
“Perajin santigi ini kan sifatnya keterampilannya turun menurun. Karena itu perlu di berikan pendampingan agar kerajinan santigi tetap terjaga dan tidak punah,” katanya.
Menurut Kampoi, awalnya UMKM Santigi yang dimotori Dayat ini masih menggunakan teknologi manual. Karena itu, KEI berpikir perlunya peningkatan teknologi. “Kami beri bantuan alat agar produksi mereka naik, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas,” ujarnya.
Selain itu, lanjutnya, KEI juga membantu pemasaran kerajinan santigi dengan mengikutsertakan pada berbagai pameran tingkat lokal maupun nasional.
KEI tidak sekedar memberikan bantuan pada UMKM santigi. Operator migas ini juga melakukan pemantauan dan evaluasi di akhir tahun. “Pengawasan dilakukan melalui forum monitoring dan evaluasi tahunan yang dilakukan oleh pihak ketiga,” terangnya.
Kampoi menambahkan, saat ini secara khusus sudah tidak ada program untuk pengembangan UMK santigi. Namun jika ada pengembangan UMKM, santigi selalu diikutsertakan.
“Harapan kami memang mereka bisa mandiri dan tidak bergantung pada pihak lain. Kalau kami saat ini sifatnya hanya memonitor pelaksanaan program,” tukasnya. [tem/beq]






