Malang (beritajatim.com) – Universitas Brawijaya (UB) menjadi satu-satunya kampus yang memiliki laboratorium kalibrasi kesehatan di Indonesia yang dapat melakukan pengujian untuk genetik. Kepala laboratorium layanan terpadu UB, Prof. Dr. Ir. Bambang Dwi Argo, DEA., menyebut bahwa laboratorium layanan terpadu di UB memiliki 3 unit besar.
Dijelaskan Prof Bambang, sejak tahun 2024 UB memiliki 2 laboratorium (lab) sentra, yaitu lab riset terpadu dan lab layanan terpadu. Pihaknyalah yang bertugas untuk mengembangkab lab layanan terpadu di UB.
“Secara umum ada 3 unit besar, pertama adalah untuk melakukan kalibrasi yang berkaitan dengan industri. Kedua, melakukan kalibrasi untuk alat-alat kesehatan, kita mengkalibrasi di rumah sakit atau lembaga kesehatan. Ketiga kita punya layanan untuk pengujian, terutama untuk mendapatkan sertifikat halal,” ujar Bambang, Senin (26/8/2024) di UPT laboratorium layanan terpadu UB.
Disebutkan Prof Bambang bahwa lab kalibrasi industri dan lab pengujian sudah mulai berjalan. Sementara itu, lab kalibrasi alat kesehatan masih proses. “Alat-alatnya baru akan datang alat-alatnya, lokasinya di sini,” ujarnya sembari menunjuk ruangan depan.
Lab layanan terpadu UB dibantu dengan dana pengadaan dari Dikti yang berkaitan dengan PTNBH. Pihaknya menyebut lab kalibrasi alat kesehatan sudah bisa digunakan bulan depan. “Dan disini pengujian yang mungkin satu-satunya di Indonesia dalam kaitanya dengan pengujian untuk genetik,” klaim Prof Bambang.
Pihaknya menyebut sumber daya manusia (SDM) yang mengelola lab layanan terpadu berjumlah sekitar 15 orang. Terdiri atas kepala, manajer teknik, manajer administrasi, petugas bidang administrasi dan lainnya sebagai pengelola laboratorium kesehatan dan pengelola laboratorium pendidikan.
“Lab kita misi utamanya atau tugas utama untuk menjamin kualitas data yang dihasilkan oleh UB, baik kegiatan penelitian, pendidikan, maupun pelayanan. Kita coba pelan pelan, mulai itu di internal maupun eksternal,” ucap Prof Bambang.
Disebutkan bahwa lab layanan terpadu UB sudah terakreditasi KAN, bahkan untuk kalibrasi industri sudah terakreditasi sejak 2019. Lab layanan pengujian pun sudah terakreditasi KAN.

“Kalau yang ketiga itu, ada lab kalibrasi kesehatan ada dua institusi yang melakukan akreditasi dari KAN dan Kementerian Kesehatan. Jadi sebuah riset itu akan mempunyai kualitas yang baik kalau alat alatnya terkalibrasi. Artinya kita menjamin kualitas data yang dihasilkan oleh alat yang ada di UB,” tegasnya.
Keberadaan lab layanan terpadu, lanjut Bambang adalah arahan dari Rektor (pimpinan) UB agar juga lab di fakultas terakreditasi KAN. Sementara UPT lab layanan terpadu menjadi supportingnya.
“Jadi kalau dikalibrasikan itu ada 4 level. Ada panduan mutu, prosedur mutu, instrumen kerja dan form. Di lab kita keempatnya ada., di Lab fakultas itu bisa menginduk ke kita untuk bisa terakreditas KAN. di Jawa Timur perguruan tinggi yang sudah punya kalibrasi mungkin hanya Pens dan Unej,” jelansya.
Diharapkan pihaknya dengan kehadiran UPT lab layanan terpadu ini bisa menjamin alat yang ada di UB. Selain itu keberadaan lab layanan terpadu untuk menjamin kemandirian UB. “Karena kita harus mandiri kita tidak boleh bergantung pada UKT, nah kita harus bisa dari sektor lain. Ya meski Itu berat karena kan kita baru, jadi marketing ini harus jalan,” kata Prof Bambang menutup. (dan/kun)






