
Malang (beritajatim.com) – Universitas Brawijaya (UB) bersama Wageningen University of Research (WUR) Belanda menggelar workshop internasional Research Collaboration yang sukses.
Kegiatan yang berlangsung selama lima hari ini diikuti oleh 42 peserta dari 14 negara, dengan tujuan utama mengembangkan sistem pertanian berkelanjutan.
Fokus utama workshop ini adalah pada pengembangan sistem produksi padi berkelanjutan atau yang dikenal sebagai Complex rice systems. Para peserta diajak untuk belajar dari kearifan lokal Indonesia, seperti pemanfaatan azolla, ikan, dan itik dalam budidaya padi. Sistem pertanian tradisional ini dinilai memiliki potensi besar untuk meningkatkan produktivitas dan menjaga kelestarian lingkungan.
Ketua panitia Muhamad Akhir Syib’li S.P., M.P., Ph.D., mengatakan kegiatan yang berlangsung di Indonesia ini dimulai secara online dari bulan Maret dan berlanjut secara langsung pada Agustus ini. Partisipan dari berbagai negara tersebut mendapat materi, berdiskusi, belajar tentang teknik pertanian, budidaya, sampai cara pengendalian hama penyakit.
“Selain mendapat ilmu secara teori peserta diajak langsung turun lapang di pertanian Kepanjen, Blitar dan Mojokerto. Mereka diajak mengenali dan merasakan langsung praktek sistem pertanian yang dirasa unik untuk dipelajari,” kata Akhir Syib’li.
Peneliti pertanian UB, Dr. Uma Khumairoh, SP., M.Sc menyebut Wageningen University of Research mengajak untuk berpikir membuat sistem produksi padi berkelanjutan bernama Complex Rice Systems. Mengingat rice atau beras adalah makanan pokok masyarakat Indonesia.
“Rice (padi) merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia dan sangat penting buat kita, maka sebagai peneliti kami berfikir bagaimana mengembangkan padi untuk ketahanan pangan, tapi di sisi lain juga menjaga keberlanjutan sistem menanam padi yang ramah lingkungan,” ujarnya.
Peneliti UB tersebut mencontohkan dengan sistem tradisional menanam padi yang dipakai nenek moyang dengan pemanfaatan azolla, ikan, dan itik bisa membantu menghambat gulma dan mengendalikan hama. Hal ini menjadi bentuk kearifan lokal dengan sistem unik yang berkelanjutan dan ini bisa diterapkan kembali, dilengkapi, dikolaborasi dengan sistem modern saat ini.
Prof. Mangku Purnomo, S.P., M.Si., Ph.D. dekan Fakultas Pertanian UB mengatakan kegiatan ini sebagai proses belajar bersama antara jaringan petani dunia dengan peneliti perguruan tinggi. Ia harap ke depan dapat menemukan model sistem pertanian yang bisa terapkan pertanian-pertanian dunia termasuk Indonesia, untuk produktivitas dan kesejahteraan petani.
“Ini menjadi network antara petani yang memiliki farming, akademisi dan para penggiat pertanian untuk membangun sistem riset bagaimana mencari solusi yang terbaik, teknologi terbaik, juga model terbaik untuk mengembangkan pertanian di dunia yang relatif friendly terhadap sumberdaya alam,” ujar dekan FP tersebut.
Wakil Rektor Bidang Akademik Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, MP., menilai kegiatan workshop ini memberikan pemahaman mengenai pertanian berkelanjutan. Ia menyambut baik karena dapat melakukan optimalisasi hasil pertanian melalui pengelolaan pertanian yang berkelanjutan.
“Semoga kegiatan ini terus menambah posisi UB sebagai penyelenggara, karena ini menjadi kegiatan Internasional yang bIsa meningkatkan reputasi kita di dunia internasional,” ujarnya.
Pada akhir acara kegiatan tersebut, di gedung Fakultas Pertanian UB ditutup dengan ditandai pemotongan launching program The Lighthouse Farms Academy sebagai bentuk kolaborasi Fakultas Pertanian UB dengan WUR. Wakil Dekan 1 Bidang Akademik FP Dr. Afifuddin Latif Adiredjo, S.P., M.Sc., mengatakan bahwa kegiatan ini sebagai momen untuk pengembangan sumberdaya manusia dan peningkatan atmosfir akademik.

Program tersebut akan diadaptasikan dan terintegrasikan dengan program Fakultas Pertanian. FP UB terus menjadi mitra di dalam Program Lighthouse Farm tersebut baik yang berjalan di Indonesia atau di negara lain.
“Ada dua point utama, pertama Wageningen adalah juara satu dunia pertanian, itu sebagai representasi sumberdaya FP UB terakui dunia. Kedua, kami tidak ingin kegiatan yang berjalan satu minggu itu berhenti di sini, kami ingin berkelanjutan kolaborasi ini terjalin,” ungkapnya. [dan/beq]






