Kabar terbaru itu saya baca dari akun media sosial resmi Persebaya. Status Eduardo Perez sebagai pelatih Persebaya resmi berakhir setelah sebelas pertandingan Super League 2025-26. Pelatih baru akan datang untuk menyelesaikan sisa musim ini.
Edu Perez mencatatkan empat kemenangan, empat hasil imbang, dan tiga kekalahan. Tiga kekalahan di antaranya terjadi di Gelora Bung Tomo Surabaya (0-1 melawan PSIM dan 1-3 melawan Persija).
Saat ini Persebaya berada di peringkat 8 klasemen sementara dengan 16 angka. Terpaut 17 angka dari Borneo FC yang berada di puncak klasemen dan 10 angka dengan Persis Solo yang di dasar klasemen.
Fakta bahwa posisi Persebaya lebih dekat dengan penghuni dasar klasemen daripada pemuncak klasemen cukup menyakitkan bagi Bonek yang berharap ada perbaikan prestasi musim ini. Namun kegagalan mengalahkan Arema di Surabaya, Sabtu (22/11/2025), sudah cukup menunjukkan bahwa harapan itu padam di tangan Perez.
Satu-satunya yang melegakan adalah semangat para pemain Persebaya yang ngeyel dan mau bertempur habis-habisan di hadapan 29.476 penonton. Namun apalah arti semangat juang, jika tidak diimbangi permainan yang apik.
Dengan akurasi passing 78 persen (bandingkan dengan Arema yang mencapai 80 persen), serangan Persebaya tak pernah membuahkan hasil memuaskan saat memasuki sepertiga akhir lapangan.
Persebaya lima kali melakukan tembakan tepat sasaran. Lebih banyak dibandingkan Arema yang hanya dua. Namun di luar dua tendangan bebas Gali Freitas, bola-bola yang mengarah ke gawang Arema tak cukup bikin ngeri Lucas Frigeri.
Fakta bahwa Persebaya tertinggal lebih dulu melalui gol bunuh diri Dime Dimov pada menit 63 kembali menunjukkan betapa rapuhnya pertahanan tim berjuluk Bajul Ijo itu. Persebaya terselanatkan oleh kemampuan individu Bruno Moreira yang mencetak gol balasan sepuluh menit kemudian.
Manajemen Persebaya belum mengumumkan pelatih baru yang menggantikan Perez. Namun akun resmi Persebaya menyatakan sudah ada kesepakatan jangka panjang.
Pertanyaannya: bakal sepanjang apa kesepakatan itu bisa bertahan?
Tujuh tahun Persebaya dikutuk seperti Sisifus.
Berganti pelatih di tengah musim sejak 2018 berulang kali dilakukan. Seolah-olah mengganti pelatih adalah sebuah tindakan sia-sia. Sama sia-sianya dengan tindakan Sisifus yang mendorong batu besar ke puncak gunung berkali-kali tanpa jeda.
Liga 1 Musim 2018, memiliki tiga pelatih. Alfredo Vera menakhodai 18 pertandingan Persebaya, Bejo Sugiantoro dua pertandingan, Djadjang Nurdjaman mengomandani 14 pertandingan.
Djadjang Nurdjaman bernasib sama dengan Vera pada musim 2019. Pelatih asal Jawa Barat itu hanya bertahan 13 pertandingan. Posisinya digantikan Bejo Sugiantoro yang menangani Bajul Ijo dalam delapan pertandingan.
Wolfgang Pikal masuk ke ruang ganti dan hanya bertahan dalam empat pertandongan. Aji Santoso menjadi pelatih keempat Persebaya musim itu dan menjalani sembilan pertandingan terakhir.
Dengan empat pelatih berbeda dalam satu 34 pertandingan, Persebaya justru mencapai prestasi terbaik pada Musim 2019 dengan menduduki peringkat kedua klasemen. Sebuah capaian yang membuat Bonek percaya diri menatap musim 2020.Namun pandemi Covid19 mengubur keyakinan itu.
Aji Santoso mendapat kesempatan untuk membuktikan kepantasannya sebagai pelatih Persebaya pada musim 2021-22. Dia menjadi koki Persebaya dalam 34 pertandingan. Hasilnya Persebaya menduduki peringkat kelima klasemen. Sebuah hasil yang tak terlalu buruk walau tak sesuai harapan.
Aji Santoso kembali mendapatkan kesempatan penuh pada musim 2022-23. Kali ini Persebaya melorot ke posisi keenam.
Dua musim di tangan Aji Santoso sebenarnya permainan Persebaya menyenangkan untuk disaksikan, Filosofi sepak bola menyerang menjadikan Persebaya salah satu tim yang menghibur di Liga 1.
Masalahnya: menghibur saja rupanya tidak cukup. Musim 2023-24 menjadi akhir perjalanan Aji di Persebaya. Dia hanya bertahan dalam enam pertandingan. Praktis selama empat musim di Persebaya, Aji telah melakoni 83 pertandingan.
Posisi Aji digantikan Uston Nawawi yang melakoni lima pertandingan sebagai pelatih Persebaya. Seorang pelatih berkebangsaan Spanyol datang: Josep Gombau. Namun dia hanya bertahan enam pertandingan. Dia dilengserkan setelah Persebaya kalah 0-4 di kandang Persik Kediri.
Uston Nawawi kembali naik pangkat menjadi pelatih utama sementara pada pekan ke-18. Persebaya di posisi ke-12. Namun Uston hanya bertahan enam pertandingan dan digantikan Paul Munster pada pekan ke-24. Persebaya selamat dari degradasi dan berada di peringkat 12.pada akhir musim.
Musim 2024-25 diharapkan menjadi musim penuh bagi Munster. Dengan permainan yang kurang nyaman ditonton, Persebaya sempat berada di peringkat pertana klasemen pada pekan 17. Bonek mulai berharap walau tak sepenuhnya yakin dan menganggap capaian itu sebagai keberuntungan belaka.
Memasuki putaran kedua, Persebaya mulai melorot dari puncak klasemen dan menduduki peringkat keempat di pengujung musim. Ketidakhadiran Paul Munster mendampingi Persebaya dalam dua pertandingan terakhir karena terkena kartu merah, seolah menjadi sinyal perpisahan.
Benar saja. Musim 2025-26 dilakoni Persebaya dengan pelatih baru: Eduardo Perez. Pelatih asal Spanyol itu membuka debutnya dengan kekalahan 0-1 dari PSIM Jogjakarta di Gelora Bung Tomo.
Kriteria Pelatih Persebaya
Bagaimana memilih pelatih yang tepat untuk Persebaya? Saya terlalu lelah untuk berpikir dan memberi saran. Atau mungkin tepatnya: bosan.
Maka saya bertanya kepada Akal Imitasi Chat GPT tentang kriteria pelatih Persebaya. Ada enam kriteria pelatih yang perlu diperhatikan.
Pertama, identitas sepak bola yang jelas. Pelatih tersebut harus punya filosofi permainan yang konsisten, tidak berubah-ubah setiap pekan. Persebaya membutuhkan build-up yang progresif, cepat, dan terstruktur; pressing tinggi yang terorganisir, dan keberanian memainkan pemain muda yang menjadi DNA Persebaya.
Pelatih itu juga harus memiliki kemampuan mengembangkan pemain muda. Dengan kompetisi internal yang kuat, Persebaya kaya dengan pemain berbakat. Pelatih baru Persebaya harus berani memberi menit bermain, memiliki program individual development plan, dan berpengalaman menangani pemain berusia 23 tahun ke bawah.
Kriteria berikutnya adalah kemampuan pelatih dalam memahami pola kompetisi dan kemampuan beradaptasi tanpa mengorbankan identitas tim. Liga 1 memiliki iklim yang panas dan menuntut rotasi pemain, kualitas lapangan yang bervariasi, dan penggunaan taktik bermain blok rendah dan transisi cepat.
Seorang pelatih Persebaya juga harus memiliki kemampuan leadership dan manajemen sumber daya manusia. Dia harus tegas namun dekat dengan pemain agar bisa mengendalikan ego pemain asing dan lokal. Selain itu, dia harus transparan dan komunikatif dengan manajemen.
Akal imitasi juga menyarankan pemilihan pelatih yang punya kemampuan menganalisis pertandingan dan data, familiar dengan video analysis dan data metrics, serta bisa memanfaatkan statistik intensitas lari, PPDA (Passes Per Defensive Action) atau umpan per aksi bertahan, expected goals, dan set-play patterns.
Masalahnya: seberapa kuat penggunaan data itu di Persebaya selama ini? Banyak yang meragukan manajemen Persebaya bekerja dengan data dan statistik yang akurat. Keraguan itu didasarkan pada bebebrapa kali kegagalan memilih pemain bermutu dan tepat dengan filosofi tim.
Pelatih Persebaya tidak perlu memiliki nama besar, asalkan memiliki rekam jejak stabil, antara lain pernah membawa tim bermain terstruktur, punya rekam jejak membangun tim dari nol, dan tidak hanya sukses jangka pendek.
Sosok Pelatih Persebaya Versi Akal Imitasi
Ada lima sosok yang direkomendasikan akal imitasi: Paul Munster, Aji Santoso, Thomas Dooley, Rene Alberts, dan Mario Gomez. Kesampingkan dua nama pertama. Saya ragu manajemen Persebaya dan Bonek mau rujuk dengan mereka.
Thomas Dooley adalah pelatih asal Amerika Serikat yang pernah sukses di Filipina. Akal imitasi menyebutnya tipe pembangun proyek jangka panjang yang memiliki organisasi taktik rapi, bagus dalam membangun struktur defensif dan transisi. dan kompetitif meski dengan materi pemain terbatas.
Sementara Rene Alberts pernah melatih Persib, PSM, dan Arema. Dia memiliki kedispilinan, tegas, dan stabil. Dia jarang membuat organisasi tim kacau, dan mampu memanajemen ruang dan struktur blok tengah.
Terakhir, Mario Gomez asal Argentina. Pernah melatih Persib bandung, dia memiliki taktik agresif dan terorganisir dan jelas sudah terbiasa dengan kompetisi Indonesia.
Jadi, siapakah sosok baru di ruang ganti Persebaya? [wir]






