Washington (beritajatim.com) – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menuai kontroversi setelah mengunggah pernyataan yang menyiratkan dukungan terhadap perubahan rezim di Iran.
Unggahan tersebut bertentangan dengan sikap resmi para pejabat tinggi pemerintah AS, yang sebelumnya menegaskan bahwa serangan terhadap fasilitas nuklir Iran bukan bertujuan untuk menggulingkan pemerintah Teheran.
Unggahan Trump di Truth Social: “Mengapa Tidak Perubahan Rezim?”
Melalui akun media sosial Truth Social miliknya, Trump menulis:
“Tidaklah benar secara politik untuk menggunakan istilah, ‘Perubahan Rezim,’ tetapi jika Rezim Iran saat ini tidak mampu MEMBUAT IRAN HEBAT LAGI, mengapa tidak ada perubahan rezim??? MIGA!!!”
Presiden Trump juga menegaskan “Kerusakan pada situs Nuklir di Iran dikatakan “monumental. ” Hitnya keras dan akurat. Keterampilan hebat ditunjukkan oleh militer kita. Terima kasih! ” ungkap Presiden Donald J. Trump.
Unggahan ini muncul hanya beberapa jam setelah Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menegaskan dalam konferensi pers bahwa, “Misi ini bukan dan tidak pernah tentang perubahan rezim.”
Pernyataan tersebut diperkuat oleh Wakil Presiden JD Vance dalam wawancaranya di program Meet The Press NBC. Vance menyatakan bahwa pemerintahan saat ini hanya fokus pada penanggulangan program nuklir Iran, bukan pada penggulingan kekuasaan di negara tersebut.
Pemerintah AS Tegaskan Tidak Berniat Gulingkan Pemerintah Iran
JD Vance menegaskan kembali bahwa Amerika Serikat,
“tidak sedang berperang dengan Iran, tetapi dengan program nuklir Iran.”
Ia menggambarkan Operasi Midnight Hammer sebagai langkah militer yang “terarah dan sesuai dengan kepentingan nasional AS”, serta berhasil menghambat ambisi nuklir Iran secara signifikan.
Vance juga menolak kemungkinan pengerahan pasukan darat atau keterlibatan dalam konflik jangka panjang, sambil menekankan bahwa jalur diplomasi tetap terbuka asalkan Iran bersedia menghentikan program senjata nuklirnya.
Ketidaksinkronan Pesan Trump dengan Kebijakan Pemerintah
Sementara Menteri Luar Negeri Marco Rubio memperingatkan bahwa langkah balasan Iran bisa berisiko “mengancam kelangsungan rezim”, Trump melangkah lebih jauh dengan secara terang-terangan mempertanyakan kelayakan keberlangsungan rezim saat ini di Iran.
Pernyataan Trump ini dianggap menciptakan ketidakharmonisan dalam pesan strategis AS. Meskipun sejumlah pejabat tinggi sepakat bahwa operasi militer tidak bertujuan menggulingkan pemerintahan Iran, unggahan Trump justru menimbulkan spekulasi bahwa ia mendukung perubahan kekuasaan di Teheran.






