Surabaya (beritajatim.com) – Pertandingan babak 16 besar Piala Dunia FIFA antara Amerika Serikat dan Belgia mencatat sejarah baru sebagai siaran sepak bola dengan jumlah penonton terbanyak di Amerika Serikat.
Data sementara yang dirilis Fox menunjukkan laga tersebut disaksikan sekitar 30 juta penonton, melampaui rekor sebelumnya yang juga tercipta pada turnamen yang sama.
Belgia memastikan langkah ke perempat final setelah mengalahkan Amerika Serikat dengan skor 4-1 di Lumen Field, Seattle, Selasa (7/7/2026) pagi WIB. Kekalahan itu sekaligus mengakhiri kiprah tim tuan rumah terakhir yang masih bertahan di turnamen.
Menurut Fox, jumlah penonton mencapai puncaknya lebih dari 36,8 juta orang pada rentang pukul 21.15 hingga 21.30 waktu Timur Amerika Serikat (ET).
Rekor tersebut mengungguli pertandingan Amerika Serikat melawan Bosnia-Herzegovina pada pekan sebelumnya yang ditonton sekitar 26,4 juta pemirsa.
Meski menjadi rekor baru untuk sepak bola di Amerika Serikat, angka tersebut masih berada di bawah sejumlah ajang olahraga besar lainnya. Super Bowl 2025, misalnya, mencatat rata-rata 127,7 juta penonton saat Philadelphia Eagles menghadapi Kansas City Chiefs. Sementara Final NBA musim lalu antara New York Knicks dan San Antonio Spurs mencatat rata-rata 20,6 juta penonton, tertinggi sejak 1998.
Di atas lapangan, Belgia tampil efektif untuk mengakhiri perlawanan Amerika Serikat. Romelu Lukaku menjadi salah satu sorotan setelah mencetak gol penutup kemenangan 4-1.
Selepas mencetak gol, Lukaku melakukan selebrasi dengan menempelkan tangan ke telinga, sebuah gestur yang dinilai sebagai sindiran terhadap kontroversi sebelum pertandingan.
Federasi Sepak Bola Belgia sebelumnya mempersoalkan keputusan FIFA yang mengizinkan penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, tampil setelah hukuman kartu merahnya dibatalkan.
Belgia kemudian mengunggah foto selebrasi Lukaku di media sosial disertai tulisan “Batalkan ini”, yang dianggap sebagai respons terhadap polemik tersebut.
Gelandang Belgia, Nicolas Raskin, mengakui isu tersebut sempat menjadi bahan pembicaraan di dalam tim.
“Selalu ada keadilan di suatu tempat dalam hidup. Kami merasa situasi itu tidak adil, dan mungkin itu memberikan tambahan motivasi bagi kami untuk memenangkan pertandingan,” ujar Raskin.
Kapten Belgia, Youri Tielemans, menilai kemenangan timnya lahir dari disiplin permainan dan efektivitas dalam memanfaatkan peluang.
“Kami bermain dengan intensitas tinggi dan kualitas yang baik. Secara defensif kami sangat kompak, mampu menekan lawan, dan mencetak gol pada momen yang tepat,” kata Tielemans.
Menariknya, kemenangan Belgia tidak hanya bergantung pada pemain-pemain senior. Charles De Ketelaere justru menjadi bintang dengan mencetak dua gol, sementara Hans Vanaken dan Romelu Lukaku masing-masing menyumbang satu gol.
“Rasanya luar biasa bisa memberikan penampilan seperti ini di pertandingan sebesar ini dan membantu tim lolos ke babak berikutnya. Ini momen yang istimewa bagi kami dan bagi negara,” ujar De Ketelaere.
Performa Belgia di fase grup sempat mendapat sorotan setelah hanya bermain imbang melawan Iran dan Mesir. Mereka juga nyaris gagal melaju sebelum akhirnya memastikan tiket ke fase gugur melalui kemenangan dramatis atas Senegal.
Gelandang Dodi Lukébakio mengakui timnya mengalami peningkatan signifikan dibandingkan fase awal turnamen.
“Saya pikir kami bisa tampil jauh lebih baik di fase grup. Namun sekarang kami berkembang, memiliki kepercayaan diri yang lebih besar, dan hasil positif membantu kami menunjukkan kualitas sebenarnya,” katanya. [faw/suf]






