Bojonegoro (beritajatim.com) – Desa Wonocolo di Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro, kini memasuki babak baru dalam pembangunan ekonominya. Desa yang selama puluhan tahun identik dengan aktivitas tambang minyak tradisional tersebut bertransformasi menjadi sentra alpukat satu-satunya di Bojonegoro, dengan ribuan pohon yang tumbuh subur di lahan yang dahulu tandus.
Di kawasan perbukitan kapur utara Bojonegoro, setidaknya 2.500 lebih pohon alpukat ditanam sejak 2015. Beragam varietas unggulan seperti Wina, Kendil, Aligator, hingga Miki kini mendominasi lahan-lahan yang sebelumnya gersang dan tak produktif. Perubahan lanskap pertanian Wonocolo ini membawa dampak nyata bagi perekonomian warga.
“Budidaya alpukat ternyata cukup membantu ekonomi petani. Selain perawatannya lebih mudah dan minim hama, harga jual di pasaran juga cukup menjanjikan,” ujar Sarimanto, petani alpukat setempat, Sabtu (15/11/2025).
Dari pohon-pohon yang telah berbuah, petani dapat memanen rata-rata dua ton alpukat setiap musim. Dengan kualitas unggul yang terus terjaga, harga jual buah ini mencapai sekitar Rp 30.000 per kilogram. Angka itu memberikan pendapatan jutaan rupiah dalam sekali panen, menjadi tonggak baru bagi warga yang dulunya menggantungkan hidup pada sumur minyak tradisional yang kian menurun produktivitasnya.
Tingginya prospek ekonomi membuat pengembangan budidaya terus diperluas. Tak hanya memanfaatkan lahan sekitar desa, para petani juga menjalin kemitraan dengan Perhutani untuk menghijaukan hutan gundul dan memulihkan lahan bekas tambang minyak dengan pohon alpukat. Kolaborasi ini tidak hanya meningkatkan produktivitas pertanian, tetapi juga menjadi upaya pemulihan lingkungan di kawasan rentan.
Pemerintah desa dan kecamatan turut mendorong inovasi dengan membuka kawasan perkebunan sebagai wisata edukasi pertanian. Model wisata ini diharapkan dapat menambah sumber pendapatan baru bagi masyarakat Wonocolo, sekaligus memperkuat identitas desa sebagai sentra alpukat Bojonegoro.
Transformasi Desa Wonocolo membuktikan bahwa daerah tambang minyak tradisional pun dapat beralih menjadi pusat pertanian produktif. Sentra alpukat ini kini menjadi simbol perubahan struktur ekonomi desa, membuka peluang baru bagi masyarakat sekaligus memberikan dampak berkelanjutan bagi lingkungan sekitar. [lus/beq]






