Surabaya (beritajatim.com) – Kolaborasi strategis antara Trakblaze Australia dan Rexline Engineering Indonesia menghadirkan terobosan sistem penimbangan dinamis yang digadang-gadang akan mengubah wajah logistik dan transportasi di Indonesia.
Teknologi ini memungkinkan penimbangan kendaraan tanpa harus berhenti, menjawab tantangan efisiensi, emisi, dan biaya operasional di sektor truk, rel, dan penerbangan.
Sistem penimbangan canggih ini menjadi solusi alternatif dari metode statis konvensional yang mengharuskan kendaraan berhenti total di atas jembatan timbang sepanjang 18 meter.
Trakblaze merancang sistem ini untuk membaca berat kendaraan secara akurat dalam kondisi bergerak, menjadikannya lebih hemat waktu dan hemat bahan bakar.
“Kami gembira memperkenalkan teknologi penimbangan unik ini ke Indonesia. Kemitraan kami dengan Rexline Engineering memungkinkan kami untuk menggabungkan keahlian kami dan memberikan solusi yang tidak hanya memenuhi persyaratan konten lokal tetapi juga merevolusi cara kendaraan rel & jalan raya ditimbang,” ujar William, CEO Trakblaze Australia dalam keterangan tertulisnya, Selasa (17/6/2025).
Tak hanya efisiensi waktu, sistem ini juga mendukung pengurangan emisi karbon dan memperpanjang usia kendaraan dengan mengurangi keausan mekanis akibat berhenti mendadak. Dengan dukungan sistem manajemen real-time, operator dapat memantau ID pengemudi, waktu, nomor registrasi, dan bobot kendaraan langsung dari dashboard digital.
Rahul Thottiyil, Managing Director Rexline Engineering Indonesia, menyatakan bahwa teknologi ini akan mendukung target pemerintah dalam meningkatkan penggunaan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
“Dengan memadukan teknologi canggih dan manufaktur lokal, kami siap meningkatkan infrastruktur transportasi Indonesia serta mendukung pengembangan industri dalam negeri,” ujarnya.
Teknologi ini diperkenalkan dalam Indo Defence Forum 2025 di bawah bendera Pemerintah Australia, yang mendapat respons positif dari Kementerian Pertahanan dan Kementerian Perhubungan RI. Sistem ini disambut sebagai solusi logistik cerdas sekaligus peluang untuk membuka lapangan kerja melalui manufaktur komponen dalam negeri.
Lebih dari sekadar inovasi, kemitraan ini menjadi model bagaimana teknologi asing dan industri lokal bisa bersinergi. Dengan sertifikasi TKDN yang tengah diupayakan, sistem ini tidak hanya menawarkan efisiensi, tapi juga legitimasi dan kemandirian industri nasional.
“Kolaborasi ini adalah lompatan besar. Kami ingin memperkuat logistik nasional dan menciptakan peluang ekspor ke negara-negara tetangga,” tandas Rahul. [asg/ian]






