Sumenep (beritajatim.com) – Bulan Sya’ban menjadi salah satu bulan istimewa bagi umat muslim. Terlebih di malam ke-15 Sya’ban. Bagi masyarakat Madura khususnya Sumenep, malam Nisfu Sya’ban diyakini sebagai malam yang sangat diijabah (dikabulkan, red) doa-doa yang dipanjatkan.
Di malam Nisfu Sya’ban yang jatuh pada Selasa (07/03/2023), nyaris menjadi pemandangan yang lazim, di masjid-masjid besar hingga musala-musala, umat muslim berbondong-bondong datang untuk menunaikan salat Maghrib berjamaah. Setelah itu, dilanjutkan dengan zikir dan doa bersama.
Tidak hanya itu, yang menjadi bagian terpenting di malam Nisfu Sya’ban adalah membaca Surat Yasin bersama-sama sebanyak 3 kali. Surat Yasin pertama dibaca untuk memohon panjang umur dan ketaatan, ketaqwaan dan istiqomah kepada Allah. Sedangkan Surat Yasin kedua dibaca untuk memohon diluaskan rezeki yang halal, dan menolak bala. Kemudian Surah Yasin ketiga dibaca untuk memohon ditetapkannya Iman dan Islam hingga akhir hayat.
[berita-terkait number=”5″ tag=”sumenep”]
Salah satu warga Desa Kolor, Kecamatan Kota Sumenep, Wahyu Budiarti mengaku rutin mengikuti Yasinan di malam Nisfu Sya’ban di musala tempatnya tinggal. Meski dirinya bukan asli warga Sumenep, tetapi ia sama sekali tidak keberatan dengan tradisi Yasinan di malam Nisfu Sya’ban.
“Ini kan intinya sholat berjamaah, kemudian berdoa bersama, baca Yasin bersama. Sama sekali tidak ada buruknya menurut saya. Justru ini positif. Ajang untuk mendekatkan kita kepada Allah,” ujarnya.
Malam Nisfu Sya’ban juga diyakini penutup catatan amal selama satu tahun, sebelum kemudian membuka catatan baru menyambut bulan suci Ramadhan. Dengan Yasinan dan berdoa bersama, diharapkan ada beribu kebaikan saat menutup catatan amal setahun.
Acara jamaah masjid dan mushola akan diakhiri dengan acara saling bersalaman dan bermaaf-maafan. Situasinya tidak jauh berbeda dengan saat Lebaran tiba. “Kami juga bersalaman dan bermaaf-maafan. Harapannya tentu saja saat kita bertemu bulan Ramadhan, hati kita sudah dalam kondisi bersih,” ucap Wahyu.
Sementara di pinggiran Kota Sumenep, setelah acara bersalaman dan bermaaf-maafan usai, anak-anak kecil tidak langsung pulang ke rumah. Mereka akan ‘unjung-unjung’ keliling kampung, dari rumah ke rumah. Suasananya sangat mirip dengan suasana Lebaran selepas salat Idul Fitri.
Malam Nisfu Sya’ban ini juga menjadi ‘berkah’ tersendiri bagi anak-anak yang ‘unjung-unjung’ keliling kampung. Saat berkunjung ke rumah-rumah warga, anak-anak ini akan mendapatkan kue berupa ‘snack’ rentengan. Bahkan hanya itu. Beberapa rumah juga memberikan lembaran- lembaran uang ribuan pada anak-anak SD ini.
Meski hanya seribu atau dua ribu rupiah yang dibawa pulang dari tiap rumah, sudah cukup membuat anak-anak berbahagia dan tersenyum lebar. Mereka berkeliling hingga belasan, bahkan puluhan rumah dalam satu kampung. Secara berkelompok. Biasanya dilakukan bersama teman-teman di tempatnya mengaji.
Seperti penuturan Afif (11), siswa kelas 4 SD di Desa Parsanga, Kecamatan Kota Sumenep. Ia mengaku senang saat malam Nisfu Sya’ban, karena bisa ‘unjung-unjung’ bersama teman-temannya. “Ya seneng. Dapat banyak kue, dapat uang juga. Bisa untuk sangu sekolah. Gak perlu minta ke ibu,” ucapnya polos. (tem/kun)






