Banyuwangi (beritajatim.com) – Menjelang Bulan Suci Ramadhan, tradisi tabur bunga di makam kerabat menjadi kebiasaan turun-temurun masyarakat Banyuwangi. Tradisi ini tidak hanya mempererat hubungan spiritual, tetapi juga membawa berkah ekonomi bagi para pedagang bunga tabur yang meraup keuntungan tinggi dari meningkatnya permintaan bunga untuk keperluan ziarah.
Di sekitar Taman Sritanjung, Banyuwangi, deretan lapak pedagang bunga tabur mulai ramai dipenuhi pembeli sejak beberapa hari sebelum Ramadhan. Berdasarkan pantauan di lapangan, setidaknya ada 10 lapak yang menjajakan berbagai jenis bunga tabur.
Salah satu pedagang, Amini, mengaku bersyukur karena pendapatannya meningkat selama musim nyekar. Biasanya, ia bisa memperoleh omzet hingga Rp500 ribu per hari, jauh lebih tinggi dibandingkan hari biasa.
“Alhamdulillah, selama beberapa hari sebelum puasa selalu ramai dibandingkan hari biasa. Kadang bisa mendapat omzet Rp500 ribu,” ujarnya dengan sumringah.
Amini menjajakan sekitar 16 kilogram bunga tabur setiap harinya, yang ia dapatkan dari agen di Bali, Jember, dan Malang. Bunga-bunga ini dikemas dalam plastik kecil dan dijual dengan harga Rp5.000 per bungkus.
Tidak hanya Amini, beberapa pedagang lainnya bahkan bisa mendapatkan omzet hingga Rp1 juta dalam sehari berkat tingginya permintaan menjelang bulan puasa.
Zainab, salah satu pembeli asal Kelurahan Singonegaran, Kecamatan Banyuwangi, mengatakan bahwa ia selalu membeli bunga tabur di Taman Sritanjung setiap menjelang puasa atau di hari-hari biasa.
“Saya biasa beli ke sini kalau mau nyekar pas mau puasa atau hari biasa,” katanya.
Menurutnya, keberadaan pedagang bunga di lokasi tersebut sangat membantu masyarakat yang ingin berziarah, baik sebelum maupun setelah hari pertama puasa.
“Pedagang di sini ada pagi dan malam hari. Tapi kalau malam, yang jual hanya satu orang. Karena pedagang selalu ada tanpa nunggu musim, masyarakat jadi lebih mudah untuk membeli bunga,” jelasnya. [alr/beq]






