Tuban (Beritajatim.com) – Tradisi Nyadran masih terus dilestarikan oleh masyarakat di sekitar Wisata Pemandian Bektiharjo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. Tradisi tahunan ini merupakan bentuk rasa syukur karena sumber mata air di kawasan tersebut tidak pernah kering dan terus mengaliri kehidupan warga hingga kini.
Tradisi ini dikenal sebagai manganan, yang mencakup memberi makan ikan-ikan dan monyet yang sudah lama tinggal di area Pemandian Bektiharjo. Menariknya, masyarakat setempat meyakini bahwa ikan-ikan tersebut tidak boleh diambil atau ditangkap secara sembarangan.
Menurut warga, tradisi Nyadran wajib digelar setiap tahun sebagai ungkapan syukur atas limpahan air dari Sendang Pemandian Bektiharjo yang mengaliri tujuh desa di Kecamatan Semanding. Kegiatan ini diikuti oleh warga dari berbagai desa dengan membawa nasi berkatan lengkap dengan lauk pauk, pisang, dan aneka jajanan pasar.
“Kelima desa ini memang dialiri oleh sumber air dari Pemandian Bektiharjo,” ujarnya, Rabu (16/04/2025).
Ia menambahkan bahwa dalam tradisi ini, warga saling bertukar makanan yang dibawa, namun sebelumnya dilakukan doa bersama yang dipimpin oleh juru kunci setempat.
Sementara itu, Juru Kunci Wisata Pemandian Bektiharjo, Hartono (71), mengatakan bahwa tradisi Nyadran ini telah diwariskan secara turun temurun sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur kepada Tuhan.
“Setiap tahun masyarakat sekitar rutin melaksanakan tradisi ini sebagai ungkapan terima kasih atas berkah sumber mata air yang terus mengalir,” tuturnya.
Kegiatan Nyadran ini berlangsung sejak pagi hingga siang hari, dengan perwakilan desa datang bergantian. Acara kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan kesenian Tayub khas Tuban yang digelar hingga malam hari. [dny/but]








