Gresik (beritajatim.com)- Ratusan pedagang mulai memadati malam selawe di Bulan Ramadan. Tradisi ini kembali digelar setelah dua tahun vakum. Tidak hanya tradisi melantunkan doa-doa di kawasan Makam Sunan Giri, tapi juga dipercaya menjadi berkah bagi para pedagang kaki lima.
Jalan Sunan Giri Gresik dari simpang empat Kebomas terlihat mulai ada pembatasan. Tapi saat malam hari, jalan tersebut ditutup total. Para pengunjung berjalan kali hingga lokasi makam Sunan Giri.
Dari pantauan di lapangan, terlihat pula stand pedagang yang dikelola oleh masing-masing desa mulai ramai. Maklum, sudah dua tahun tradisi ini ditiadakan akibat pandemi covid-19. Terlebih lagi, menurut kepercayaan sekitar, pedagang yang turut memeriahkan malam selawe ini akan berlimpah berkah setelah mengikutinya.
Camat Kebomas, Yusuf Anshori menuturkan, mulai dari simpang empat Kebomas hingga tembus Desa Sekarkurung dilakukan penutupan jalan. Sebagai gantinya, pedagang memenuhi jalan dengan panjang sekitar 8 kilometer tersebut.
[berita-terkait number=”4″ tag=”ramadan”]
Kendati demikian, lanjut dia, pedagang yang berjualan di malam selawe itu tetap dibatasi. Hal itu dilakukan agar tidak terjadi kemacetan dan saling berdesakan antar pengunjung. “Memang sangat antusias, sebab jika pedagang ikut memeriahkan malam selawe ini akan ketiban berkah,” tuturnya, Selasa (26/4/2022).
Mantan Camat Balongpanggang ini menyebut, untuk memecah pengunjung, di lokasi parkir bus area makam Sunan Giri juga terdapat pameran UMKM. “Parkirnya kendaraan juga dipecah di beberapa titik. Sehingga akses jalan lain tidak terganggu,” paparnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Makam Sunan Giri Izzuddin mengatakan, untuk area makam mulai dari bawah hingga atas steril dari pedagang. Hal itu dilakukan agar para peziarah tidak terganggu. “Semua pedagang berada di jalan, tidak boleh berada di kawasan sekitar makam,” katanya. [dny/suf]






