Surabaya (beritajatim.com) – Badminton atau bulu tangkis merupakan salah satu olahraga yang paling populer di Indonesia. Olahraga ini selalu menjadi cabang andalan yang dapat membawa Indonesia memenangkan berbagai medali di ajang antar benua hingga dunia. Bahkan, seringkali meraih emas di Olimpiade.
Tak hanya itu, berkat olahraga bulu tangkis nama Indonesia begitu harum di mata Internasional. Sebut saja seperti Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat hingga Rudy Hartono.
Mereka merupakan atlet yang sampai saat ini masih menjadi pujaan banyak kalangan, berkat mengharumkan nama bangsa di kejuaran bulutangkis bergengsi.
Namun taukah Anda jika dibalik kejayaan badminton Indonesia menyimpan kisah yang cukup menyedihkan, yakni pencetak generasi emas bulu tangkis Indonesia yang terlupakan.
Bagi masyarakat Indonesia yang lahir di tahun 80-an tentu mengenal sosok Tong Sin Fu. Ia merupakan pelatih badminton Indonesia yang sukses melahirkan generasi emas tunggal putra Indonesia yang mendominasi dunia. Lalu seperti apa sih fakta Tong Sin Fu ini? Simak informasinya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”profil”]
1. Mendapat Julukan The Thing
Pria kelahiran Teluk Betung, Lampung ini mengawali kariernya menjadi pemain bulu tangkis. Berkat bakatnya tersebut ia masuk ke kelas junior. Saat memasuki usia senior, Tong Sin Fu memutuskan untuk belajar bulu tangkis di Cina.
Namun, karena kondisi politik Cina saat ini ia tidak bisa tampil di turnamen Internasional, prestasinya pun mentok di Ganefo edisi 1963 dan 1966 sebagai juara tunggal putra.
Meskipun begitu, namanya mulai meroket sejak pemerintah Cina mulai terbuka, dan ia pun mendapat julukan “The Thing” oleh media eropa.
2. Pernah Menjadi Pelatih Atlet Bulu Tangkis Indonesia
Setelah pensiun, pemilik nama asli Fuad Nurhadi ini sempat menjadi pelatih di Cina pada akhir 1979. Lalu pada 1986, Tong Sin Fu diminta untuk melatih Pelita Jaya milik Aburizal Bakrie.
Saat itu, ia dikontrak 750 USD per bulannya, kemudia Sin Fu ditarik ke Pelatnas Cipayung dan melahirkan sejumlah bintang bulu tangkis melalu tangan dinginnya.
3. Melahirkan Generasi Emas Tunggal Putra Indonesia
Ketika menjadi pelatih bulu tangkis Indonesia, Sin Fu berhasil melahirkan generasi tunggal putra Indonesia yang mendominasi dunia.
Dirinya sukses memoles pemain seperti Icuk Sugiarto, Alan Budikusuma, Ardy B. Wiranata, dan Hariyanto Arbi. Bintang terkahir yang mengkilat di tangganya adalah Hendrawan.
4. Pencapaian Terdahsyat Anak Asuhan di Olimpiade Barcelona 1992
Kali pertama bulu tangkis dipertandingkan di Olimpiade tiga wakil tunggal putra Indonesia mendominasi total dengan menyapu bersih medali. Alan dan Ardy meraih emas serta perak dengan menciptakan All Indonesian Final. Sementara saat itu Hermawan meraih perunggu.
5. Pergi dari Indonesia dengan Hati Terluka
Herry Iman Pierngadi atau yang dijuluki dengan coach Naga Api ini merupakan pelatih ganda putra Indonesia atau tidak lain adalah teman sekamar Tong Sin Fu. Saat Tong masih di Indonesia ia kerap mendapat curhatan dari pelatih tunggal putra Indonesia tersebut.
Sing Fu saat itu curhat tentang status kewarganegaraan yang tidak jelas di Indonesia. Saat dia hendak pindah ke Cina, Herry mengatakan bahwa Sin Fu luar biasa bimbang. Kalau mau memilih, Sin Fu ingin tetap berada di Indonesia ujarnya saat itu.
Tapi akhirnya dengan hati sangat terluka, pada 1998 Sin Fu pergi dari Indonesia. Tak hanya itu, di tengah ketidakpastian dan kegamangan ia menerima pinangan sebuah klub lokal di Provinsi Fujian, Cina. Selain itu Sin Fu juga sempat ditipu seorang aparat pemerintah Indonesia.
6. Mengangsur Uang Berjumlah Fantastis Agar Menjadi WNI
Sebelum memutuskan untuk pergi, Sin Fu sempat mengangsurkan uang antara Rp 30-50 juta agar permohonannya menjadi WNI (Warga Negara Indonesia) diterima. Jumlah yang sangat besar untuk tahun 1990-a. Tetapi, setiap kali maju imigrasi ia selalu menghantam tembok. Sin Fu diminta untuk mengulang prosesnya menjadi WNI sejak awal hingga pada akhirnya menyerah.
7. Diperlakukan Istimewa Saat Menjadi Pelatih di Cina
Saat menjadi pelatih baru di Cina, Tong Sin Fu diperlakukan sebagai pelatih lama, semua jasanya dihitung selain itu dia juga langsung diberi rumah serta fasilitas. Tak hanya itu, pensiunnya dijamin gajinya disesuaikan dengan levelnya yang tinggi. Kepedulian Cina kepada Sin Fu juga jauh lebih tinggi. (frs/nap)






