Malang (beritajatim.com) – Malang dikenal sebagai salah satu gudangnya startup. Banyak anak muda memilih berkiprah di tren pekerjaan yang identik dengan dunia digital ini. Baik itu sebagai pekerja maupun pemilik dengan membangun platform-platform baru. Bisa dibilang, startup cukup mendominasi obrolan-obrolan Gen Z di Malang Raya. Ini seiring dengan massifnya pengaruh digital di pergaulan anak muda.
Namun di balik hingar binger tren startup itu, sebagian Gen Z justru memilih jalan sunyi. Memupuk harap merdeka finansial melalui usaha warung kelontong yang dikenal dengan Toko Madura. Mereka tak resah dengan dominasi startup di Kota Apel itu. Tak tertarik dengan goda janji berlimpahnya uang.
Mungkin, banyak yang menganggap menekuni usaha Toko Madura tidak sekeren bekerja di depan laptop. Padahal, bagi yang paham, Toko Madura tidak bisa dianggap usaha rendahan dengan hasil yang minim. Ada perputaran uang yang luar biasa besar dari bisnis ini. Bahkan mampu menyaingi retail modern.
Di satu malam, Irvan Effendi tengah berbaring di ruangan seukuran 3×3 meter di salah satu sudut Kota Malang. Di bawah cahaya lampu neon, mahasiswa Universitas Brawijaya itu tengah asyik dengan gadgetnya. Di sekelilingnya, ada sejumlah bahan kebutuhan sehari-hari. Mulai dari mie instan, beras, kopi sachet, rokok, air mineral kemasan, sabun mandi, sabun cuci piring, pasta gigi, dan masih banyak lagi.
Demikian halnya dengan Muhammad Farhan Aziz. Aktivis organisasi yang bersiap melanjutkan studi S2 di Universitas Islam Malang itu sesekali melayani driver ojek yang mampir sekadar beli rokok atau minuman kemasan. Aktivitas itu dia jalani sepanjang Toko Madura miliknya buka. Tentu di luar aktivitas perkuliahan.
Baik Irvan maupun Farhan, keduanya adalah pemilik Toko Madura yang beroperasi selama 24 jam, sebuah benteng ekonomi rakyat yang menolak untuk tidur. Mereka adalah dua di antara wajah-wajah antitesa itu. Kisah mereka bukan sekadar cerita bisnis, melainkan sebuah manifestasi perlawanan terhadap stigma yang menyebut Gen Z pemalas, rapuh, dan lain sebagainya.
Kisah mereka bukan sekadar cerita tentang bisnis, melainkan sebuah manifestasi dari perpaduan etos kerja warisan leluhur dengan visi anak muda yang melihat peluang di tempat yang seringkali dianggap ‘kolot’ dan ‘ketinggalan zaman’.
Mengapa seorang mahasiswa seperti Irvan dan pemuda terpelajar seperti Farhan memilih bisnis yang menuntut mereka terjaga saat dunia terlelap? Jawabannya berakar pada dua hal fundamental: identitas dan peluang.
“Keputusan ini berakar kuat dari melihat adanya celah dan kebutuhan di lingkungan sekitar yang belum terpenuhi oleh minimarket modern, terutama untuk kebutuhan mendadak di jam-jam non-konvensional,” ungkap Irvan Effendi saat ditemui di tokonya di Malang. Baginya, toko 24 jam adalah jawaban bagi mereka yang membutuhkan sesuatu di luar jam operasional ritel modern yang kaku.
Namun, lebih dalam dari itu, keputusan ini adalah penegasan identitas. Menurutnya, toko Ini juga memiliki kaitan erat dengan etos kerja orang Madura yang dikenal sebagai pekerja keras, ulet, dan tidak kenal lelah dalam mencari rezeki.
Konsep 24 jam menjadi cerminan filosofi bahwa rezeki bisa datang kapan saja, dan kesiapan untuk menyambutnya adalah kunci. Hal senada diungkapkan oleh Muhammad Farhan Aziz di Surabaya. Baginya, sistem 24 jam bukan lagi pilihan, melainkan sebuah kekonsistenan yang membangun kepercayaan pelanggan.
“Masyarakat atau pelanggan sudah paham bahwa warung ini buka 24 jam. Selain itu, omzet juga bertambah dari operasional nonstop ini,” jelas Farhan.
Pengorbanan di Balik Pintu Toko yang Selalu Terbuka
Dedikasi tanpa henti ini tentu menuntut pengorbanan yang tidak sedikit. Waktu menjadi komoditas paling mewah yang harus mereka relakan. Jam biologis yang terbalik, waktu istirahat yang terpotong, dan kehidupan sosial yang terkikis adalah harga yang harus dibayar.
“Pengorbanan terbesar tentu saja adalah waktu pribadi. Jam biologis sering terganggu. Saat orang lain tidur lelap, saya masih melayani orang beli kopi instan atau mi. Belum lagi jika ada urusan mendadak yang harus saya tangani, padahal saya juga harus mengerjakan tugas kuliah,” tutur Irvan dengan jujur, yang tak hanya jadid pemilik ia juga menjaga tokonya sendiri.
Irvan memandang.sebagai bagian dari sebuah proses sebuah keyakinan bahwa tidak ada kesuksesan yang bisa diraih secara instan tanpa ada yang dikorbankan. Bagi Farhan, pengorbanan itu bernama konsistensi.
“Yang jelas pengorbanannya adalah waktu. Kita rela kurang tidur hanya untuk menjaga konsistensi warung Madura ini. Jika ada barang habis tengah malam, kita harus segera kulaan (berbelanja stok), atau bahkan meminjam ke sesama warung Madura terdekat,” katanya. Ini menunjukkan adanya solidaritas tak tertulis di antara para perantau Madura.
Siapakah yang menjadi pelanggan setia di waktu-waktu paling ganjil? Profil mereka beragam, namun disatukan oleh kebutuhan mendesak.
“Pelanggan di waktu tidak biasa itu biasanya para pekerja shift malam, driver ojek online, satpam, hingga mahasiswa yang begadang,” rinci Irvan. Barang-barang yang menjadi penyelamat bagi mereka pun adalah kebutuhan-kebutuhan mendasar: kopi saset untuk menahan kantuk, mi instan sebagai pengganjal perut, obat-obatan ringan untuk demam atau masuk angin, token listrik yang tiba-tiba berbunyi, hingga popok bayi untuk keadaan darurat.
Farhan melihat pola yang serupa, di tokonya yang berada di Surabaya. “Dekat lokasi saya ada rumah sakit dan kampus. Jadi tengah malam itu ramai oleh warga sekitar, mahasiswa, dan pekerja dari luar. Apalagi musim hujan, yang paling dicari itu mi instan, rokok, dan kopi,” ujarnya.
Momen-momen unik pun kerap terjadi. Irvan seringkali menjadi dewa penolong bagi pengendara yang kehabisan bensin di dini hari. “Sering ada orang mau berangkat kerja atau mahasiswa pulang kuliah kehabisan bensin dan lupa bawa uang tunai. Ya sudah, saya berikan dulu satu botol, besoknya baru dibayar,” ceritanya.
Sementara Farhan memiliki pengalaman yang lebih mengharukan sekaligus lucu. “Pernah ada satu keluarga, si bapak belanja, anaknya merengek minta es krim tapi dilarang karena takut batuk. Anak itu nangis sejadi-jadinya. Sebagai penjaga toko, saya jadi merasa sungkan sekaligus geli melihat interaksi keluarga itu. Momen seperti ini tidak akan Anda temukan di kasir minimarket,” kenangnya.
Di sinilah peran Toko Madura melampaui sekadar transaksi jual-beli. Ia menjadi simpul sosial dan jaring pengaman komunitas yang tidak bisa ditawarkan oleh minimarket modern.
Menurut Irvan, setidaknya ada tiga keunggulan utama. Pertama, sebagai penyedia kebutuhan darurat 24 jam sejati. Kedua, adanya kedekatan personal.
“Kami mengenal sebagian besar pelanggan, tahu kebiasaan mereka. Toko ini sering jadi tempat ngobrol dan berbagi cerita. Ada interaksi sosial hangat yang tidak hanya soal uang,” tegasnya. Ketiga, fleksibilitas harga dan ketersediaan barang eceran, seperti bensin atau minyak goreng curah, yang menjadi penyelamat bagi kantong banyak orang.
Farhan menambahkan dimensi lain: keamanan. “Dengan buka 24 jam, warung ini secara tidak langsung ikut menjaga keamanan lingkungan. Potensi pencurian berkurang karena ada aktivitas sepanjang malam,” jelasnya.
Tantangan di Era Persaingan Sesama Perantau
Menjalankan bisnis 24 jam bukannya tanpa tantangan. Selain risiko keamanan di jam-jam rawan dan sulitnya mencari karyawan yang mau bekerja di shift malam, tantangan terbesar saat ini justru datang dari internal.
“Tantangan terberat hari ini adalah persaingan sesama Warung Madura, apalagi yang jaraknya berdekatan. Itu sudah pasti memengaruhi omzet,” keluh Farhan.
Ia menyayangkan lunturnya “etika” yang dulu dipegang teguh. “Keluarga saya sudah 18 tahun berkecimpung di bisnis ini. Dulu ada prinsip, jangan buka warung untuk menyaingi sesama Madura. Tapi sekarang, para pemain baru tidak terlalu memegang itu,” ungkapnya.
Lalu, apa yang membuat anak muda cerdas seperti Irvan dan Farhan bertahan, bahkan bersemangat, di jalur tradisional ini? Jawabannya terletak pada visi mereka tentang makna kesuksesan dan dampak.
Irvan melihatnya sebagai pembuktian. “Harapan saya, toko ini bisa berkembang, punya cabang, dan dikenal sebagai pusat kebutuhan masyarakat yang responsif. Warisan yang ingin saya tinggalkan adalah bukti nyata bahwa dengan kerja keras, bisnis tradisional pun bisa bertahan dan berjaya,” katanya. Baginya, ada kepuasan batin saat tokonya bisa menjadi solusi nyata bagi orang lain.
Bagi Farhan, bisnis ini adalah fondasi untuk cita-cita yang lebih besar. “Saya punya keinginan terjun ke dunia politik. Bagi saya, sebelum masuk ke sana, urusan dapur dan perut harus selesai. Dengan punya usaha sendiri, saya tidak akan bergantung pada politik dan punya rem untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan,” paparnya dengan visi yang matang.
Memilih toko kelontong di saat teman sebayanya berlomba membangun aplikasi adalah sebuah pilihan sadar. “Justru karena banyak yang fokus ke digital, sektor konvensional seperti ini jadi punya celah yang kurang diperhatikan,” ujar Irvan. Ia merasa belajar fundamental bisnis secara langsung manajemen stok, keuangan, pelayanan pelanggan adalah ilmu yang tak ternilai.
Farhan menutupnya dengan sebuah prinsip sederhana namun kuat. “Kalau tidak berusaha hari ini, lalu kapan akan dimulai? Karena bagi saya, usaha yang baik adalah usaha yang dimulai.”
Bagi kita, Kisah Irvan dan Farhan adalah potret ketangguhan dan adaptasi. Mereka adalah wajah baru dari etos kerja Madura, Generasi Z yang memadukan tradisi kerja keras dengan kecerdasan melihat peluang, membuktikan bahwa jalan menuju sukses tidak selamanya harus dilapisi silikon dari lembah teknologi, terkadang ia hanya butuh diterangi oleh satu bohlam lampu yang menyala sepanjang malam. [dan/beq]








1 Komentar
Dibaca separoh boleh ta