Suatu hari dalam kehidupan Moeldoko. Kakinya pernah terancam bukan oleh terjangan peluru musuh, tapi oleh kebiasaan lari. “Waktu saya di Lemhanas (Lembaga Ketahanan Nasional), olahraga saya tidak proporsional. Saya lari kencang, akhirnya lutut saya kena,” katanya, dalam kuliah umum di auditorium Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Jumat (24/3/2023).
Pria yang saat ini menjabat Kepala Staf Kepresidenan RI itu pun harus menjalani operasi lutut. “Begitu operasi, dokternya bilang: ‘Bapak mau usianya (usia lutut, red) mau panjang atau tidak? Kalau Bapak disiplin, ini bisa 30 tahun. Tapi kalau Bapak melanggar, tidak disiplin, maka usia lututnya hanya 20 tahun’,” kata Moeldoko.
Moeldoko gentar. Ia akhirnya memutuskan berhenti berlari. Menurutnya, olahraga proporsional merupakan satu dari tiga syarat untuk hidup sehat. “Banyak orang berolahraga tumbang di lapangan tenis, meninggal, karena tidak proporsional,” katanya.
“Kedua, makan secukupnya. Kita sudah diajari makan saat lapar, berhenti sebelum kenyang. Kalau kita makan berlebihan, kita akan kelebihan karbohidrat atau gula. Risikonya kencing manis, larinya akan ke mana-mana. Ketika makan terlalu banyak, biasanya mudah mengantuk dan terjadi penumpukan gula. Tidak sehat lagi,” kata Moeldoko.
Tips ketiga, lanjut Moeldoko, adalah bagaimana mengelola stres. “Kalau ada pekerjaan berat jangan sambat (mengeluh). Nikmati. Kalau ada kegagalan, nikmati. Kegagalan itu nikmat Tuhan. Orang tidak akan sempurna kalau tidak gagal. Jadi gagal itu bagian dari kesempurnaan hidup,” katanya.
Moeldoko mengaku pernah berkonsultasi dengan seorang habaib penasihat spiritualnya. “Saya kadang takut, karena semua yang saya inginkan, Tuhan selalu berikan. Apa saya ini dilulu (dimanja) oleh Tuhan?”
“Saya lupa, antara saat berpangkat kapten atau letnan satu, suatu saat saya merenung di kamar, mengambil kertas putih dan saya garis kehidupan saya. Semua yang saya gariskan tidak meleset. Jadi saya sudah memikirkan garis hidup saya di atas kertas putih. Sayang kertas putih itu hilang. Coba tersimpan baik, itu akan jadi arsip kehidupan,” kata Moeldoko.
“Pertanyaan saya: apakah kalian berani mengambil tinta dan kertas putih untuk menggaris kehidupan Anda? Itu pertanyaan yang Anda jawab sendiri. Tidak gampang. Mungkin bisa kita buat garis itu. Tapi banyak dari kita yang tidak berkomitmen terhadap apa yang kita buat sendiri,” kata Moeldoko. [wir]






