Magetan (beritajatim.com) – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Magetan merilis perkembangan pariwisata periode Juli 2025. Data menunjukkan tingkat penghunian kamar (TPK) hotel di Magetan mencapai 17,27 persen, sementara rata-rata lama menginap tamu (RLMT) tercatat hanya 1,02 hari.
BPS mencatat, angka TPK Juli 2025 naik 0,19 poin dibandingkan Juni 2025 yang sebesar 17,08 persen. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (Juli 2024), kenaikan TPK lebih signifikan yakni 2,05 poin.
Artinya, dari setiap 100 kamar hotel yang tersedia di Magetan, rata-rata hanya 17 hingga 18 kamar yang terisi setiap malam. Meski relatif rendah, tren peningkatan ini menjadi sinyal adanya pergerakan positif pada sektor perhotelan setelah sempat menurun di awal tahun.
“Setelah pada tiga bulan pertama 2025 TPK hotel terus menurun, April sempat naik signifikan. Mei kembali turun menjadi 15,67 persen, lalu Juni naik ke 17,08 persen, dan Juli meningkat lagi ke 17,27 persen,” terang BPS Magetan dalam laporannya.
Sementara itu, rata-rata lama menginap tamu (RLMT) di Magetan pada Juli 2025 berada di angka 1,02 hari. Angka ini turun tipis 0,01 poin dari bulan sebelumnya. Dengan kata lain, sebagian besar wisatawan hanya bermalam 1–2 hari di hotel.
BPS menilai indikator RLMT penting untuk menggambarkan daya tarik pariwisata lokal. Semakin lama tamu menginap, semakin besar pula potensi perputaran ekonomi di sekitar sektor wisata, mulai dari kuliner, transportasi, hingga belanja oleh-oleh.
Berdasarkan data tahunan, pola RLMT di Magetan cenderung stabil di kisaran 1 hari sejak 2024. Perbedaan hanya terlihat pada tamu asing, meski kontribusinya masih sangat kecil terhadap total kunjungan.
Meskipun menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun lalu, capaian TPK Magetan masih relatif rendah jika dibandingkan daerah wisata lain di Jawa Timur. Rendahnya tingkat hunian kamar menunjukkan tantangan tersendiri bagi pengelola hotel dan pemerintah daerah untuk lebih mendorong daya tarik wisata.
Magetan sebenarnya memiliki potensi besar melalui ikon wisata seperti Telaga Sarangan, wisata agro, hingga destinasi alam lereng Lawu. Namun, pendeknya masa menginap tamu mengindikasikan bahwa wisatawan lebih sering melakukan kunjungan singkat (one day trip) ketimbang berlibur panjang.
Kepala BPS Kabupaten Magetan, Mohamad Samsodin, dalam keterangan resmi menyebutkan, angka TPK dan RLMT bisa dijadikan indikator penting untuk mengevaluasi efektivitas program pariwisata daerah. Upaya peningkatan promosi wisata, penyediaan event-event budaya, serta pengembangan fasilitas akomodasi diharapkan mampu mendorong wisatawan untuk tinggal lebih lama.
Dengan perbaikan strategi pariwisata, Magetan berpeluang meningkatkan kinerja perhotelan sekaligus memperkuat kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian daerah. [fiq/aje]






