Surabaya (beritajatim.com) – H. Imam Utomo S, resmi kembali memimpin Palang Merah Indonesia (PMI) Jawa Timur setelah terpilih secara aklamasi dalam Musyawarah Provinsi (Musprov) ke-18 PMI Jawa Timur.
Kegiatan yang digelar pada Selasa (25/11/2025), di Hotel Santika, Gubeng, Surabaya, ini sekaligus menjadi momentum konsolidasi organisasi dan bukti kuatnya dukungan dari seluruh PMI kabupaten/kota di Jawa Timur terhadap kepemimpinan Imam Utomo.
Sebanyak 38 PMI kabupaten/kota hadir sebagai pemilik suara dalam Musprov. Seluruhnya sepakat menetapkan Imam Utomo sebagai ketua untuk periode 2025-2030. Penetapan aklamasi ini bukan hanya karena ia menjadi calon tunggal, tetapi Gubernur Jawa Timur dua periode 1998 sampai 2008 ini juga karena dinilai berhasil menjaga soliditas organisasi. Serta, memperkuat struktur PMI di berbagai daerah selama masa kepemimpinannya sebelumnya.
Dalam sidang yang dipimpin Edi Purwinarto, Musprov berjalan cepat dan kondusif. Laporan pertanggungjawaban pengurus sebelumnya diterima secara bulat, menegaskan tingginya kepercayaan peserta Musprov terhadap kinerja PMI Jawa Timur.
“Alhamdulillah, kepengurusan PMI di Jawa Timur, dari tingkat kabupaten/kota hingga provinsi sangat kompak. Sehingga, proses Musprov ini berlangsung lancar dan cepat,” ujar Imam Utomo dalam sambutannya.
Imam menyampaikan terima kasih atas dukungan penuh yang diberikan. Menurutnya, memimpin PMI bukan sekadar amanah organisasi, tetapi komitmen moral terhadap kemanusiaan.
“Ini adalah panggilan jiwa. Ini tentang kemanusiaan, kepedulian terhadap sesama, dan nilai kepalangmerahan yang harus dimiliki seluruh pengurus PMI Jatim. Saya berharap PMI Jawa Timur ke depan semakin baik dalam melayani masyarakat, terutama saat menghadapi kebencanaan,” tegas mantan Pangdam V/Brawijaya ini.
Ke depan, Imam Utomo berkomitmen memperkuat kapasitas relawan, mempercepat respons kebencanaan, dan memastikan ketersediaan layanan kemanusiaan di seluruh wilayah Jawa Timur. Ia optimistis PMI Jawa Timur dapat semakin adaptif menjawab tantangan kemanusiaan yang terus berkembang.
Musprov ke-18 PMI Jawa Timur juga menyoroti pentingnya peningkatan partisipasi generasi muda dalam donor darah. Antusiasme kelompok muda dinilai sangat membantu menjaga ketersediaan darah, terutama pada kondisi darurat. Donor darah disebut sebagai lifeline atau tali kehidupan yang menyelamatkan banyak pasien di berbagai momen kritis.
PMI menekankan pentingnya kesinambungan teknologi dan sistem layanan darah. Pengalaman selama pandemi Covid-19 menjadi pembelajaran besar, di mana kebutuhan plasma konvalesen meningkat dan PMI mampu memenuhinya berkat keberadaan unit-unit yang dapat melakukan ekstraksi plasma.
“Kesiapan dan modernisasi unit layanan darah harus terus diperkuat. Pengalaman pandemi menunjukkan betapa vitalnya teknologi dan manajemen darah yang efektif,” tuturnya.
Selain teknologi, PMI Jawa Timur juga menyoroti pentingnya keselarasan operasional antara PMI dengan seluruh fasilitas kesehatan. Penguatan jejaring bank darah, sistem rantai dingin (cold chain), serta efisiensi distribusi darah akan menjadi prioritas dalam periode kepemimpinan berikutnya.
Imam juga menyatakan bahwa pemerintah hadir mendukung penanganan bencana, namun PMI tetap berharap keterlibatan berbagai elemen masyarakat yang sangat dibutuhkan. Terlebih lagi menyangkut ketersediaan darah merupakan upaya kolektif yang tidak dapat mengandalkan satu pihak saja.
Di bawah kepemimpinan Imam Utomo, PMI Jawa Timur dinilai berhasil menjaga tingginya tingkat partisipasi masyarakat. Hal ini terlihat dari meningkatnya jumlah penghargaan donor darah sukarela beberapa tahun terakhir, yang menunjukkan tingginya kepercayaan publik terhadap PMI.
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur, Prof. Erwin, turut hadir dalam Musprov. PMI berharap dapat masuk dalam strategi inti sektor kesehatan serta penanganan kebencanaan Jawa Timur. Selain layanan donor darah, jaringan relawan PMI dinilai sangat penting dalam menghadapi berbagai situasi darurat, termasuk kebencanaan. [tok/aje]






