Magetan (beritajatim.com) – Memasuki suhu cuaca yang bediding, atau cenderung dingin, ada pengaruh khusus terhadap budidaya ikan. Khususnya budidaya ikan koi di Desa Sumberdodol, Kecamatan Panekan, Magetan.
Setijo Pudji Rahardjo (56) pembudidaya koi mengatakan, suhu dingin tentu mempengaruhi budidaya ikan. Normalnya, koi hidup di lingkungan dengan suhu 15 derajat sampai 26 derajat celcius.
“Namun, karena bediding begini, yang kami lakukan biasanya dengan mengurangi kapasitas air. Agar sinar matahari bisa menembus, sehingga suhu jadi tidak terlalu dingin,” terang pria yang akrab disapa Pudji itu, Selasa (2/7/2024)
Menurutnya, perubahan suhu dan perubahan keasaman air memang berisiko terhadap kesehatan ikan. Bisa saja ikan jadi mudah terserang penyakit jika terjadi perubahan. Jika tak tertangani dengan tepat, ikan berisiko mati.
“Dulu di awal saya bikin kolam di sini, tahun 2015, ya pernah ikannya mati karena ya masih penyesuaian. Namun, belakangan ini sudah bisa menyesuaikan ya. Dan bahkan kami tidak hanya membesarkan saja, tapi termasuk breeding atau pembibitan,” kata pensiunan produsen minyak Amerika itu.
Sejauh ini, Pudji fokus dalam pembibitan. Sebentar lagi, bakal ada pemijahan. Kolamnya sudah disiapkan untuk mengembangkan telur koi. Baru kemudian dilakukan pembesaran. Koi yang tidak layak kontes maka akan dipisahkan.

“Koi yang tidak layak untuk kontes maka kami sumbangkan ke desa untuk ngisi kolam bumdes. Kadang juga diambil rumah makan atau yang lain untuk ngisi kolam saja. Kalau yang layak kontes, ya kami rawat untuk nanti dijual atau diikutkan kompetisi,” katanya.
Tak lagi sendiri, Pudji telah memberikan edukasi pada masyarakat Sumberdodol untuk budidaya koi. Dia membantu proses pembesaran koi sehingga nanti bisa dijual atau ikut dalam kompetisi.
“Ya akhirnya di Sumberdodol ini kan beberapa kali sudah ada bursa koi juga. Ini jadi sumber pendapatan masyarakat,” katanya.
Selain koi, Pudji juga memiliki kolam ikan nila. Ikan konsumsi itu dibudidayakannya untuk dijual seperti biasa. “Karena kami juga dibina oleh Dinas Peternakan dan Perikanan yang juga fokus pada ikan konsumsi untuk penanganan stunting,” katanya. [fiq/suf]






