Jember (beritajatim.com) – Rektor Universitas Muhammadiyah Jember Muhammad Hazmi mengaku kecewa, karena terpaksa membatalkan kehadiran tokoh intelektual Rocky Gerung dalam kuliah umum di kampus tersebut, Kamis (7/3/2019).
“Saya mohon maaf kepada peserta yang tidak bisa kami penuhi keinginannya, karena situasi. Peserta kecewanya satu, kami kecewanya lima. Sudah capek ke sana kemari, eh yang diundang terpaksa kami cancel,” kata Hazmi.
Acara di Gedung Zainuri tersebut dihadiri 900 orang. Para hadirin sudah hadir sejak pagi, karena rencananya acara digelar sekitar pukul sepuluh. Ada 200 orang aparat kepolisian berjaga di sekitar kampus, menyusul adanya aksi penolakan yang dilakukan Calon Legislator Partai Hanura Jumadi Made.
Jumadi mendatangi Unmuh Jember kemarin dan mengancam akan menghadang Rocky Gerung jika acara tetap berlangsung. Ia menganggap Rocky telah melecehkan ulama dan pahlawan nasional KH Agus Salim serta melecehkan kitab suci.
Hazmi menyampaikan, bahwa Rocky diagendakan hadir ke Jember sejak Oktober 2018. Padatnya agenda pria berkacamata itu membuat acara ditunda beberapa kali.
[berita-terkait number=”4″ tag=”rocky-gerung”]
Pembatalan dilakukan setelah Hazmi mendengarkan saran beberapa orang. “Saya ditelpon Kapolres Jember dari kemarin sampai tadi malam. Beberapa pihak menyarankan agar kami membatalkan kunjungan beliau (Rocky Gerung),” katanya.
“Melihat perkembangan eskalasi, saya berdiskusi dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah. Pada prinsipnya tokoh-tokoh Muhammadiyah ingin beliau tetap hadir di Jember. Apapun risikonya. Tapi memperhatikan pihak luar juga, Kapolres menyatakan kepada kami, bahwa pengamanan akan sedikit kerepotan, kami mengirim pesan kepada agensi beliau (Rocky Gerung) bahwa mohon berkenan untuk membatalkan kunjungan ke Jember,” kata Hazmi.
Akhirnya, Rocky batal datang. Acara kuliah umum berganti judul menjadi acara tausiyah dengan diisi Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jember Kusno. Acara pun berlangsung hingga sekitar pukul dua belas siang.
“Tentu saja kami sangat menyesal dan kecewa. Ini kegiatan rutin kampus yang semestinya tidak terjebak kepada situasi-situasi seperti itu, tapi ternyata masyarakat kita menanggapi seperti itu,” kata Hazmi. [wir/suf]






