Makkah (beritajatim.com) – Terminal Syib Amir Makkah menyiagakan layanan bus shalawat dengan sistem shuttle dan alokasi gerbang khusus guna mengantisipasi lonjakan kepadatan jemaah haji Indonesia yang diprediksi mencapai puncaknya pekan depan.
Kesiapan ini mencakup penguatan personel dan evaluasi harian untuk memastikan mobilisasi jemaah dari hotel menuju Masjidil Haram tetap berjalan lancar di tengah suhu ekstrem yang menembus 40 derajat Celsius.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, Terminal Syib Amir saat ini menjadi titik paling sibuk bagi jemaah haji, termasuk ribuan jemaah asal Jawa Timur.
Mengingat tantangan polusi asap bus dan sengatan matahari, kesiapan petugas diuji untuk memberikan pelayanan yang humanis meski menghadapi berbagai kendala teknis di lapangan.
Kepala Pos (Kapos) Terminal Syib Amir, AKP Dr. Iswan Brandes, mengungkapkan bahwa pihaknya terus melakukan Analisis dan Evaluasi (ANEV) setiap hari.
Hal ini dilakukan untuk menutup celah ketidakpuasan jemaah serta memperbaiki koordinasi dengan para pengemudi bus yang berasal dari berbagai negara seperti Mesir, Turki, hingga India.
“Memang setiap harinya ada catatan ataupun pelayanan kepada Jemaah. Pasti ada celah untuk mereka merasa tidak puas. Tetapi setiap harinya kami anep apa yang perlu kita perbaiki. Kita benahi, tetap kita benahi,” ujar Brandes saat memantau perputaran bus di terminal.
Sistem Shuttle dan Pengaturan Gate Khusus
Guna menghindari kekosongan armada, petugas menerapkan sistem shuttle yang berputar secara otomatis antara terminal dan hotel. Brandes menjelaskan, sistem ini dirancang agar jemaah tidak menunggu terlalu lama di bawah terik matahari.
Namun, ia mengingatkan mulai minggu depan akan ada perubahan alur masuk terminal karena gerbang lain mulai digunakan oleh negara-negara lain.
“Untuk gate mulai minggu depan gate yang akan digunakan adalah gate C dan D. Karena untuk minggu depan itu gerbong ataupun gate yang lainnya sudah dipakai oleh negara-negara lain. Jadi kenapa saya sampaikan gate C dari awal karena nanti ke depan, minggu depan itu sudah ini. Tidak bisa lagi kita masuk di gate yang lain karena sudah digunakan negara lain,” tegas Brandes.
Selain itu, jemaah juga harus memperhatikan aturan otoritas Arab Saudi yang menghentikan operasional bus 30 menit sebelum azan di setiap lima waktu shalat fardu. Pemahaman akan jadwal ini sangat penting agar jemaah dapat mengatur waktu keberangkatan dengan lebih efisien.
Pesan Kapos: Jangan Paksakan Diri ke Masjid
Menghadapi fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), Brandes menitipkan pesan khusus bagi seluruh jemaah haji Indonesia
Ia mengimbau jemaah, terutama yang masuk kategori lansia dan risiko tinggi, untuk lebih bijak dalam mengatur tenaga. Melaksanakan shalat fardu di hotel dinilai menjadi strategi terbaik untuk menjaga kesehatan fisik agar tidak tumbang sebelum hari H puncak haji.
“Antisipasi untuk ke arah puncak, puncak terminal sudah mulai mensosialisakan. Untuk tidak sering sholat wajib, sekalian menjaga kesehatan dan juga tenaga mereka. Jadi lebih kami arahkan Bapak dan Ibu Haji itu untuk sholatnya di hotel,” jelasnya.
Brandes mengakui bahwa melayani tamu Allah di titik paling panas di Makkah ini menuntut kesabaran ekstra. Baginya, terminal ini adalah tempat belajar makna sabar yang sesungguhnya.
“Dalam hal ini pelayanan semaksimal apapun yang pasti sebagai manusia pasti masih ada celah untuk harus di perbaiki dan perbaikan dan juga pelayanan,” pungkasnya. [ian/MCH]






