Gresik (beritajatim.com) – Perjalanan spiritual terkadang datang dari arah yang tak terduga. Bagi Wen Chao, seorang pekerja asal China yang bekerja di kawasan industri Gresik, pencarian makna hidup itu berujung pada keputusan besar untuk memeluk agama Islam.
Pria berusia 33 tahun tersebut resmi menjadi mualaf setelah mengucapkan dua kalimat syahadat di Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Gresik. Momentum itu terasa semakin istimewa karena berlangsung pada 21 Ramadhan 1447 Hijriah, bulan yang penuh makna bagi umat Islam.
Dengan penuh ketenangan, Wen Chao mengikrarkan keislamannya dalam prosesi yang dipimpin langsung oleh Ketua Umum MUI Gresik, KH Ainur Rofiq Thoyyib.
Wen Chao diketahui bekerja di PT Xinyi Glass Factory yang berada di kawasan Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE) Manyar, Gresik. Ia memeluk Islam karena terinspirasi oleh rekan kerjanya yang beragama Muslim. Keputusan besar tersebut ternyata tidak muncul secara tiba-tiba.
Melalui bantuan temannya sebagai penerjemah, Wen Chao menceritakan bahwa sebelum datang ke Indonesia, ia sama sekali tidak pernah berpikir akan memeluk Islam.
“Sebelum ke Indonesia tidak ada pikiran sama sekali untuk memeluk agama Islam,” ujarnya, Rabu (11/3/2026).
Di lingkungan kerjanya, ia melihat banyak rekan yang beragama Islam menjalankan ibadah dengan penuh kedisiplinan dan keyakinan. Pengalaman sederhana itu justru menjadi awal dari rasa penasaran yang mendalam.
“Saya melihat banyak teman yang beragama Islam menjalankan keyakinannya, sehingga saya mulai tertarik untuk belajar tentang Islam,” kata Wen Chao.
Sejak saat itu, Wen Chao mulai mempelajari Islam secara perlahan melalui interaksi sehari-hari dengan rekan kerjanya. Ia belajar, bertanya, dan mencoba memahami ajaran Islam dari orang-orang di sekitarnya hingga akhirnya keyakinan itu tumbuh dalam dirinya.
Setelah melalui perjalanan batin yang panjang, ia pun merasa mantap untuk mengucapkan syahadat. Di hadapan Wen Chao, KH Ainur Rofiq Thoyyib memberikan nasihat agar ia mulai mempelajari dan mempraktikkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, syahadat merupakan pintu awal untuk memasuki kehidupan sebagai seorang Muslim.
“Setelah mengucap dua kalimat syahadat, hendaknya mulai belajar dan mempraktikkan ajaran Islam, terutama rukun Islam setelah syahadat, yaitu salat lima waktu, puasa, zakat, dan haji bila mampu,” paparnya.
Kiai Rofiq juga menegaskan bahwa memeluk Islam tidak hanya sebatas pengakuan secara lahiriah, tetapi juga harus diyakini sepenuh hati.
“Islam itu bukan sekadar agama yang diyakini secara lahir, tetapi juga secara batin. Iman harus yakin bahwa Islam adalah agama yang benar menurut dirinya,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Kiai Rofiq juga mengingatkan bahwa seorang mualaf terkadang harus menghadapi perbedaan keyakinan dengan keluarga.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa keyakinan merupakan hak pribadi setiap orang.
“Yang terpenting hubungan baik dengan keluarga tetap harus dijaga meskipun terdapat perbedaan keyakinan,” pungkas Kiai Rofiq. [dny/but]






