Ringkasan Berita:
- Patung Bung Karno di halaman Istana Gebang Blitar diresmikan Megawati Soekarnoputri.
- Patung karya pematung Dunadi dibuat dari tembaga dengan proses pengerjaan selama enam bulan.
- Pose Bung Karno duduk sambil membaca buku memiliki filosofi sebagai pemikir, ideolog, dan guru bangsa.
- Karya tersebut menjadi ikon baru rumah masa kecil Sang Proklamator di Kota Blitar.
Blitar (beritajatim.com) – Rumah masa kecil Presiden pertama Republik Indonesia, Bung Karno, atau yang dikenal sebagai Istana Gebang di Kelurahan Bendogerit, Kota Blitar, kini memiliki ikon baru yang memperkaya nilai sejarah kawasan tersebut. Sebuah patung Bung Karno dalam posisi duduk sambil membaca buku resmi menghiasi halaman Istana Gebang setelah diresmikan langsung oleh Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, Senin (15/6/2026).
Patung tersebut bukan sekadar elemen estetika di kawasan cagar sejarah, melainkan sebuah karya seni yang menyimpan filosofi mendalam tentang sosok Bung Karno sebagai pemikir, ideolog, sekaligus guru bangsa.
Karya itu merupakan hasil tangan pematung realis nasional, Dunadi, yang selama ini dipercaya keluarga Bung Karno untuk memvisualisasikan Sang Proklamator dalam berbagai monumen di Indonesia.
Menurut Dunadi, patung di Istana Gebang merupakan pesanan langsung dari Megawati Soekarnoputri dan memiliki konsep serupa dengan patung Bung Karno yang berada di Lemhannas.
“Ini pesanan Ibu Megawati sama dengan yang di Lemhanas juga,” ungkap Dunadi kepada awak media, Senin (15/6/2026).
Berbeda dari banyak monumen Bung Karno yang menampilkan sosoknya sedang berpidato atau berdiri gagah, patung di Istana Gebang menghadirkan Putra Sang Fajar dalam suasana yang lebih tenang. Bung Karno digambarkan duduk santai sambil membaca sebuah buku.
Pose tersebut dipilih untuk menggambarkan sisi intelektual Bung Karno. Sosok proklamator itu tidak hanya dikenang sebagai pemimpin perjuangan kemerdekaan, tetapi juga sebagai seorang pemikir besar yang melahirkan berbagai gagasan tentang kebangsaan, persatuan, dan masa depan Indonesia.
Melalui visual tersebut, Dunadi ingin menghadirkan pesan bahwa warisan terbesar Bung Karno bukan hanya kemerdekaan, melainkan juga pemikiran yang hingga kini tetap relevan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sebagai pematung realis, Dunadi juga mempertimbangkan proporsi karya agar selaras dengan lingkungan Istana Gebang. Ia sengaja tidak membuat patung berukuran terlalu besar agar tetap menghadirkan kesan akrab bagi para pengunjung.
“Tingginya ini cuma 4 meter,” imbuhnya.
Dengan tinggi empat meter, patung tetap terlihat monumental tanpa menghilangkan nuansa hangat rumah masa kecil Bung Karno. Pengunjung seolah disambut langsung oleh sosok Sang Proklamator saat memasuki halaman Istana Gebang.
Material yang digunakan pun dipilih secara khusus. Patung tersebut dibuat menggunakan tembaga, logam yang dikenal memiliki karakter klasik sekaligus daya tahan tinggi terhadap perubahan cuaca.
Untuk menyelesaikan karya tersebut, Dunadi membutuhkan waktu sekitar enam bulan.
“Ini terbuat dari tembaga proses pembuatan selama 6 bulan.”
Selama proses tersebut, lembaran-lembaran tembaga dibentuk, dipahat, dilas, hingga menghasilkan detail anatomi dan ekspresi wajah yang realistis. Seiring waktu, permukaan tembaga akan mengalami patina atau perubahan warna alami yang justru menambah karakter artistik patung.
Bagi Dunadi, tantangan terbesar dalam memahat tokoh sejarah bukan hanya menghadirkan kemiripan fisik, tetapi juga menangkap karakter dan karisma tokoh yang diabadikan.
Pengalaman panjang mengerjakan berbagai patung Bung Karno membuatnya memahami bagaimana menerjemahkan sosok Sang Proklamator ke dalam karya seni tiga dimensi yang hidup.
Hasil tersebut pun mendapat apresiasi dari Megawati Soekarnoputri. Menurut Dunadi, putri Bung Karno itu mengaku terkesan dengan hasil akhir karya yang dibuatnya.
“Beliau terkesan tentang patung ini, jadi saya selalu ditimbangi (dipercaya) untuk memvisualisasikan uh patung pak karno. Di samping itu, kami sudah lama juga membuat patung patung uh terutama juga (sosok Bung Karno),” imbuhnya.
Kepercayaan yang terus diberikan keluarga Bung Karno menjadi bukti konsistensi Dunadi dalam menghadirkan visual Sang Proklamator melalui karya-karya patung realis.
Kini, patung tembaga setinggi empat meter tersebut resmi menjadi bagian dari wajah baru Istana Gebang. Kehadirannya tidak hanya mempercantik kawasan bersejarah di Kota Blitar, tetapi juga menjadi pengingat bahwa Bung Karno dikenang bukan semata sebagai Bapak Proklamator, melainkan juga sebagai pemikir besar yang mewariskan gagasan, semangat, dan nilai-nilai kebangsaan bagi generasi penerus. [owi/beq]






