Ngawi (beritajatim.com) – Harga berbagai kebutuhan pokok di pasar tradisional Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, mengalami lonjakan signifikan menyusul kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.
Dampaknya tidak hanya dirasakan konsumen, tetapi juga para pedagang yang mengaku kehilangan banyak pembeli sehingga omzet penjualan merosot hingga 50 persen.
Kenaikan harga terpantau di Pasar Besar Ngawi pada Senin (15/6/2026). Hampir seluruh komoditas pangan mengalami penyesuaian harga, mulai dari beras, minyak goreng, bawang merah, bawang putih, cabai, hingga berbagai jenis sayuran.
Beras premium yang sebelumnya dijual Rp14.000 per kilogram kini naik menjadi Rp16.000 per kilogram. Sementara beras medium mengalami kenaikan lebih tinggi, dari Rp11.000 menjadi Rp14.000 per kilogram.
Kenaikan juga terjadi pada minyak goreng kemasan. Produk minyak goreng, termasuk Minyakita, kini dijual rata-rata Rp22.000 per liter dari sebelumnya Rp20.000 per liter. Selain harga yang naik, pasokan minyak goreng disebut semakin sulit diperoleh di pasaran.
Komoditas bumbu dapur menjadi salah satu penyumbang inflasi terbesar di tingkat pasar. Harga bawang merah melonjak dua kali lipat dari Rp25.000 menjadi Rp50.000 per kilogram. Bawang putih juga mengalami kenaikan tajam dari Rp19.000 menjadi Rp40.000 per kilogram.
Sementara itu, cabai rawit kembali mengalami kenaikan harga dari Rp40.000 menjadi Rp70.000 per kilogram. Kondisi serupa terjadi pada sejumlah sayuran. Harga kubis naik dari Rp4.000 menjadi Rp10.000 per kilogram. Sawi hijau yang sebelumnya dijual Rp7.000 kini mencapai Rp10.000 per kilogram, sedangkan sawi putih naik dari Rp6.000 menjadi Rp10.000 per kilogram.
Di tengah tren kenaikan harga tersebut, tomat masih bertahan pada harga tinggi yakni Rp12.000 per kilogram dari sebelumnya Rp7.000 per kilogram. Hanya komoditas telur ayam yang menunjukkan penurunan harga, dari Rp28.000 menjadi Rp25.000 per kilogram.
Lonjakan harga kebutuhan pokok tersebut membuat aktivitas perdagangan di pasar tradisional menurun drastis. Banyak warga memilih mengurangi belanja karena daya beli yang melemah akibat meningkatnya pengeluaran rumah tangga.
Susilowati, salah seorang pedagang di Pasar Besar Ngawi, mengaku kondisi pasar berubah sejak harga BBM nonsubsidi naik.
“BBM naik semua harga melonjak pasar menjadi sepi pembeli,” ujar Susilowati.
Keluhan serupa disampaikan pedagang lainnya, Katarina Winarsi. Menurut dia, selain harga yang naik, ketersediaan minyak goreng bersubsidi juga semakin sulit ditemukan.
“Minyakita susah di dapat ini kita jual 22 ribu dari harga 16 ribu barang susah di timbun orang kaya,” kata Katarina.
Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana kenaikan biaya distribusi dan transportasi berpengaruh langsung terhadap harga kebutuhan pokok di tingkat pasar. Kenaikan BBM umumnya berdampak pada meningkatnya ongkos logistik, sehingga harga barang kebutuhan sehari-hari ikut terkerek naik.
Bagi masyarakat, lonjakan harga pangan berpotensi menambah beban pengeluaran rumah tangga, terutama bagi kelompok berpenghasilan rendah. Sementara bagi pedagang, penurunan jumlah pembeli berdampak langsung terhadap pendapatan harian yang menjadi sumber penghidupan utama mereka.
Para pedagang berharap pemerintah dapat mengambil langkah stabilisasi harga dan memastikan ketersediaan pasokan kebutuhan pokok di pasaran. Dengan demikian, daya beli masyarakat dapat kembali pulih dan aktivitas perdagangan di pasar tradisional bisa kembali normal dalam waktu dekat. [fiq/ted]






