Paul Munster meluapkan kegembiraan dengan menendang sebuah sepatu di ruang ganti, usai Persebaya mengalahkan tuan rumah Persita 1-0, di Stadion Kapten I wayan Dipta, Denpasar, Bali, Sabtu (14/9/2024).
Adegan ini mengingatkan aksi Alex Ferguson menendang sebuah sepatu di ruang ganti Manchester United, usai kekalahan 0-2 dari Arsenal dalam turnamen Piala FA pada medio 2003. Sepatu itu melayang kena pelipis David Beckham.
Tidak ada pemain Persebaya yang sesial Beckham. Sepatu yang ditendang Munster menghantam dinding. Dan tidak seperti Ferguson yang melakukannya karena amarah, Munster menendang sepatu untuk melampiaskan kelegaannya.
Ini pekan keempat Liga 1 2024-25, dan Persebaya belum tersentuh kekalahan sama sekali. Pelatih asal Irlandia Utara itu sukses membawa Persebaya memenangi tiga laga dan memetik satu kali hasil imbang. Bajul Ijo menduduki peringkat ketiga klasemen sementara.
Kendati menang dan Munster lega, permainan Persebaya jauh dari kata melegakan. Persebaya masih terpaku filosofi ‘Jas Benang’. Jelek Asal Bisa Menang.
Satu-satunya gol kemenangan Persebaya yang tercipta pada menit 11, murni karena kelihaian Bruno Moreira melepas tembakan datar melengkung dari luar kotak penalti.
Sekali lagi Persebaya diselamatkan ‘Si Amak Baik’. Dan sekali lagi Flavio Silva gagal menunjukkan ketajamannya. Empat gol yang dicetak Persebaya, tiga di antaranya dikemas Bruno dan satu gol lagi dicetak Mohammed Rashid.
Persebaya bisa saja gagal memetik kemenangan bila wasit Axel Febrian Sinaga tidak membatalkan hadiah penalti yang diberikan kepada Persita. Semula Axel dengan yakin menunjuk titik putih setelah bola mengenai tangan pemain belakang Persebaya Slavko Damjanovic yang terjatuh. Namun setelah mengecek di layar VAR, Axel menganulir keputusan.
Kendati menang, Persebaya mengalami kerugian, setelah gelandang bertahan Andre Oktaviansyah dikeluarkan dari lapangan. Dia tertangkap VAR memukul tengkuk gelandang bertahan Persita Badrian Ilham satu menit menjelang pertandingan berakhir.
Fabio Lefundes, pelatih Persita, dengan kesal menyebut Persebaya tidak berniat untuk bermain sepak bola dan hanya mengulur waktu. “Kalau ingin sepak bola Indonesia bagus, kita harus bermain, memberikan kesempatan agar pertandingan benar-benar terjadi,” katanya.
Munster tentu saja tidak peduli. Tiga angka tetap tiga angka. Main jelek atau bagus, di akhir pertandingan, yang dihitung hanya kemenangan. ‘Kami punya mentalitas pemenang,” katanya.
Masalahnya, dengan gaya bermain ‘Jas Benang’, sejauh mana Persebaya bisa tetap memborong tiga angka? Dengan komposisi pemain yang bagus musim ini, Munster seharusnya bisa meracik strategi permainan yang enak ditonton sekaligus menjamin kemenangan.
Bahkan pelatih sekelas Lefundes mengakui, jika Persebaya memiliki materi tim yang kuat. “Mereka punya pemain terbaik musim lalu, Fransisco Rivera. Mereka juga punya Malik Risaldi, pemain lokal terbaik. Saya tahu benar dia, karena saya membawanya dari Persela ke Madura United. Mereka punya Flavio Silva, pencetak gol terbanyak kedua musim lalu,” katanya.
Kritik Lefundes mungkin ekspresi kekesalan belaka. Namun ada kebenaran dalam kata-katanya. Persebaya seharusnya bsa bermain lebih baik daripada yang ditunjukkan saat ini. Gaya bermain Persebaya sangat mudah ditebak dan sangat tergantung pada sosok Bruno. Begitu Bruno dimatikan, mesin serang bisa macet.
Dari empat pertandingan yang sudah berjalan, Bruno masih relatif gagal dimatikan. Namun hanya soal waktu bagi semua tim Liga 1 untuk membaca kelemahan Persebaya dan mengeksekusinya dalam detail permainan. Dan jika waktu itu tiba, Munster tak hanya butuh mental pemenang, tapi juga taktik yang benar untuk menang. [wir]







1 Komentar
Mainya kurang baik sentuhan tiki taka kurang baik