Blitar (beritajatim.com) – Pemerintah telah membangun 118 hunian sementara (Huntara) bagi korban bencana tanah bergerak di Kabupaten Blitar. Hunian sementara yang dibangun oleh pemerintah ini menggunakan atap asbes.
Penggunaan asbes untuk atap bangunan Huntara ini sebenarnya cukup berbahaya. Pasalnya dalam beberapa jurnal kesehatan telah disebutkan bahwa asbes memiliki serat yang cukup kecil dan tipis tak kasat mata. Sehingga ketika asbes rusak serat-serat kecil tersebut bakal beterbangan ke udara serta akan terhirup oleh paru-paru.
Melansir laman National Institutes of Health, serat asbes yang terhirup ke dalam paru-paru tubuh bakal memicu sejumlah penyakit berbahaya. Paparan asbes tersebut bisa meningkatkan risiko terhadap penyakit-penyakit seperti asbestosis, mesothelioma, hingga kanker paru-paru.
Meski tidak semua orang yang terpapar asbes akan mengidap penyakit berbahaya. Namun paparan asbes bisa meningkatkan resiko kemungkinan orang terjangkit penyakit berbahaya seperti kanker paru. “Memang asbes itu memiliki butiran oecil ketika itu rusak bisa terhirup ke paru-paru bisa merusak alveoli, itu bagian terkecil dari paru-paru,” kata Dr. Christine Indrawati, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, Jumat (26/01/24).
Resiko korban bencana tanah bergerak di Blitar terjangkit penyakit kanker paru hingga asbestosis menjadi lebih besar karena mereka tidak memiliki kepastian waktu. Hingga saat ini memang belum ada kepastian waktu sampai kapan para korban bencana tanah bergerak itu bakal menempati Huntara yang menggunakan atap asbes. “Mamang ada resiko untuk penyakit-penyakit itu tapi itu jangka panjang, dan resiko itu akan muncul ketika asbes itu rusak kalau baik-baik saja ya tidak apa-apa,” tegasnya.
Dampak paparan asbes ini biasanya dirasakan dalam jangka panjang. Debu asbes yang terhirup oleh tubuh, maka dalam jangka waktu yang panjang debu-debu tersebut akan mengalami pengendapan di bagian paru-paru.
Dalam kasus ini, debu akan mengendap di bagian bronkiolus atau dinding saluran pernafasan. Nantinya pada stadium lanjut pengendapan tersebut dapat menyebar ke organ tubuh yang lain, dan memicu penyakit kanker paru. “Tapi jangan dibalik ya meski ada kanker paru bukan berarti penyebabnya, asbes tapi memang beresiko,” tutupnya.
Selain kanker paru, ada dua penyakit lain yang mengintai akibat paparan asbes. Kedua penyakit tersebut adalah asbestosis dan mesothelioma.
Esbestosis adalah suatu penyakit yang terjadi akibat timbulnya jaringan parut di bagian paru-paru. Kondisi tersebut menyebabkan gangguan pernafasan seperti sesak nafas, serta terganggunya oksigen saat masuk ke dalam darah. Sementara mesothelioma merupakan sejenis kanker yang menyerang bagian mesothelium. Bagian tersebut merupakan lapisan pelindung yang mengelilingi bagian perut, paru-paru, dada, dan organ internal tubuh lainnya. (owi/kun)






