Malang (beritajatim.com) – Saat ini, Indonesia sedang menghadapi bonus demografi. Dimana, banyak anak muda usia produktif melakukan inovasi untuk mengatasi berbagai permasalahan dalam negeri.
Salah satu permasalahan krusial adalah terkait dengan pengolahan sampah. Hingga tahun 2022, tercatat masih ada 7,2 ton sampah yang masih belum terkelola dengan baik.
Untuk itu, perusahaan rintisan asal Malang, yakni Buangdisini memberikan solusi untuk mengurai permasalahan tersebut. Mereka melakukan pengelolaan sampah melalui berbagai produk.
“Kami memberikan akses dan menawarkan economical benefitnya. Di awali dari pabrik pengolahan daur ulang, mulai 2020 hingga 2023,” ujar Rheza Varianto Yulistira, CEO Buangdisini.
Startup yang sudah memiliki 15 orang tim ini menggunakan skema operasional bisnis berbasis mobile apps. “Ini untuk mengumpulkan para user pemulung dan pengepul. Mereka bisa memaksimalkan proses bisnis mereka sehari-hari,” ujar pria kelahiran 1992 ini.
Kemudian, Buangdisini juga membuat sistem Smart Waste Center. Disini, dari sisi hilir melakukan pengolahan sampah dan mendistribusikan ke user lain.
“Kemudian, juga memiliki community development. Contohnya, pada perusahaan Probolinggo menghitung beberapa bank sampah yang bisa membantu masyarakat yang tinggal di daerah tersebut. Lalu mengubah sampah jadi raw material,” kata dia.
[berita-terkait number=”3″ tag=”showup”]
Rheza menyebut, sampai saat ini, Buangdisini juga terus melakukan kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memilah sampah dari rumah.
“Kami melakukan campaign buanglah sampah pada tempatnya. Namun, harus diolah dulu sampah sebelum dibuang. Ini juga menjadi bagian kompetensi untuk para gen z yg ada di malang dimana tujuannya membangkitkan pengolahan sampah pribadi,’ lanjut dia.
Tak ingin berhenti sampai disitu, Rheza ingin mencoba skema revolusi industri sampah. “Jadi, gimana tata niaga sampah. Kami ingin mencoba jadi salah satu bagian agar lebih transparan dan dapat diberikan sebagai alat bantu industri ini menjalankan business operasionalnya,” kata dia.
Kemudian, ia juga ingin melakukan ekspansi bisnis ke beberapa kota di Jawa Timur. “Jangka menengahnya kami ingin menambah jumlah sampah yang dapat kita fasilitasi dapat dijual. Jangka panjang kami berusaha untuk menjadi salah satu anak muda asli kota malang yang dapat mendapatkan manfaat,” sambung dia.
Startup yang sudah mendapatkan klien dari Save The Children, EU in Asean, World Economic Forum, Coca Cola, Danone hingga Adidas ini berharap, bisa menjadi salah satu alat bantu bagi pemerintah untuk menyelesaikan masalah sampah.
=============
Konten Kerjasama beritajatim.com dengan Ngalup Collaborative Network
Ngalup Coworking Space yang saat ini bertransformasi menjadi Ngalup Collaborative Network, adalah wadah bagi para talent, stakeholders, dan berbagai lini bisnis untuk kolaborasi dan berjejaring. Kami menyadari kebutuhan akan perubahan dan tantangan zaman yang semakin berkembang, menjadikan Ngalup tidak hanya sebagai tempat melainkan fasilitator.






