Surabaya (beritajatim.com) – Sejak kecil, kita selalu dicekoki cerita sejarah yang dijahit bersama dongeng. Cerita yang ditampilkan seragam dan seolah-olah punya pakem yang sama. Selama perjalanan, tak sedikit disuguhi puing-puing cerita turun temurun oleh para juru kunci makam dan pengurus kompleks makam itu sendiri.
Jika sedikit ditarik mundur, perjalanan “menjahit” ini bukan berawal dari Ampeldenta. Melainkan berawal dari kampus Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Tempat di mana menyiapkan diri dan mencari bekal untuk perjalanan panjang ini. Bukan untuk berkuliah, tapi sowan kepada Bapak Wakil Dekan yang akan dituliskan pada episode selanjutnya.
Mitos merupakan cerita yang populer dari mulut ke mulut dan dipercaya masyarakat. Mitos pun menjadi selimut hangat perjalanan panjang menuju jejak-jejak peninggalan para penyebar Islam di Jawa, wabil-khusus wilayah Jawa Timur. Mitos yang eksis hingga kini terdengar sangat meyakinkan saat pertama kali didengar.
Fakta, kata serapan dari bahasa latin yakni factus. Fakta merupakan antonim dari mitos. Fakta dapat dibuktikan kebenarannya secara data. Mitos dan fakta, air dan minyak, korea utara dan korea selatan. Dua hal yang selalu bersinggungan dan hampir tak bisa disatukan.
“Masyarakat kita itu selalu menciptakan mitos-mitos kepada tokoh penting, salah satunya dengan simbol.”
Untaian kalimat yang kita dengar saat sowan kepada Wakil Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya pada Jumat, 15 Maret 2024 lalu. Dr. H. Muhammad Khodafi, M.Si. Itulah nama yang tertulis di depan kaca ruangan beliau.
Pernah mendengar kisah Sunan Ampel yang berhasil membawa gapura dari Kerajaan Majapahit? Ya, jika berziarah ke kompleks makam Sunan Ampel kita akan menemukan lima buah gapura dengan cat warna putih dengan tinggi sekitar kurang lebih 3 meter.
Cerita turun temurun itu keluar dari Pak Mustajab, sang abdi dalem makam. Beliau bercerita bahwa Sunan Ampel membawanya menggunakan sajadah yang dibeber, lalu dikempit dan dibawa ke Ampeldenta.

Atau pernah mendengar kisah kapal Sunan Bonang yang terus berputar-putar saat berada di wilayah laut Kota Tuban menuju Madura? Konon, menurut cerita turun temurun, saat Sunan Bonang wafat, para muridnya sepakat untuk memakamkan di wilayah Madura.
Namun saat memasuki wilayah Tuban, kapal tersebut terus berputar-putar. Seakan tak ingin melanjutkan perjalanan. Lantas, murid-murid Sunan Bonang mengubah rencana dengan memakamkan sang guru di Bumi Wali.

Secuil cerita-cerita turun temurun tersebut hingga kini belum menemui ujung. Ujung fakta kisah-kisah perjalanan heroik para penyebar agama Islam yang benar-benar terjadi. Itulah alasan Tim Ekspedisi Warisan Islam dalam Selimut Budaya Baru berpetualang puluhan kilometer demi puing-puing fakta yang masih tersisa.
Saat singgah di beberapa makam, juru kunci atau pengurus yayasan makam selalu berkata “menurut cerita turun temurun” atau “katanya orang dulu-dulu”. Tak salah, karena mereka-mereka tak hidup berbarengan di zaman yang sama dengan para Sunan. Bukti empiris dari kisah-kisah itu yang kini masih terus digali oleh tim ekspedisi.






