Surabaya (beritajatim.com) – Tak masuk dalam jajaran Wali Songo, tapi namanya selalu disebut sebagai ayahanda Sunan Ampel. Sosok yang dapat dikatakan menjadi cikal bakal heroiknya Wali Songo menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa.
Syekh Ibrahim Asmoroqondi yang dianggap sebagai sesepuh Wali Songo ini disemayamkan di Desa Gesikharjo, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban. Makam dengan gapura batu bata merah yang terlihat sangat megah. Tak sulit menjangkaunya, sekitar 200 meter dari Jalan Daendels.
Komplek makam yang dikelola dengan baik ini selalu dipadati oleh peziarah dari berbagai daerah dan akan lebih padat lagi saat malam Jumat. Lantunan peziarah yang memanjatkan doa dan tahlil akan terdengar nyaring saat memasuki Gapura Padhuraksa menuju makam Mbah Ibrahim.
Meski telah dikelola dengan baik oleh yayasan yang berwenang, ada saja oknum peziarah yang kerap berbuat tak terpuji. Cerita ini sampai kepada tim ekspedisi saat berkunjung ke makam ayahanda Sunan Ampel ini.
“Ada sepasang suami istri yang datang dari Kediri. Mereka rutin berziarah kesini (makam Syekh Ibrahim Asmoroqondi). Awalnya memang berniat berziarah, tapi lama-lama niatnya melenceng demi bisnisnya dan melakukan hal yang tak baik. Mereka mengambil sebuah potongan kayu yang ada di atap pendopo dekat makam Mbah Ibrahim dan dibawa pulang,” ungkap Juru Kunci Makam Syekh Ibrahim Asmoroqondi pada 18 Maret 2024 lalu.

Hal tersebut diketahui Sang Juru Kunci setelah oknum suami istri itu mengembalikan kembali potongan kayu yang diambil dari komplek makam Syekh Ibrahim Asmoroqondi. Selain penuturan dari Juru Kunci, tim ekspedisi pun mendapat cerita tutur mengenai Ibrahim Asmoroqondi yang beredar di masyarakat.
Sebagai sosok yang dianggap sebagai leluhur walisongo. Terdapat cerita tutur yang dipercaya masyarakat dari masa ke masa. Cerita tutur itu menyebut bahwa Syekh Maulana Ibrahim Asmoroqondi memiliki karomah bisa meningkatkan derajat.
Tak hanya itu, beberapa peziarah yang datang konon mengharap dibukakan hati dan pikirannya dalam menerima ilmu baik ilmu agama maupun ilmu dunia, hingga dimudahkan dalam menyelesaikan segala urusan.
Ada pula cerita tutur lain mengenai karomah dari Mbah Ibrahim. Jika berwasilah dan berziarah ke makam Ibrahim Asmoroqondi, akan dilanggengkan dan dikaruniai kebahagiaan dalam bahtera rumah tangganya.
Menurut cerita karomah tersebut merujuk kepada pelafalan nama “Asmoro” yang memiliki arti cinta kasih. Pemancar kedamaian, kebahagiaan, dan keharmonisan pasangan suami istri.diyakini oleh beberapa masyarakat menjadi karomah dari Syekh Ibrahim Asmoroqondi.

Tidak ada yang benar, tidak ada yang salah. Pembentukan cerita tutur tersebut dapat diartikan sebagai penghormatan kepada sosok besar yang sukses menyebarkan agama Islam di pesisir utara Jawa.
Bahkan, menitiskan anak-anak yang berpengaruh besar di Tanah Jawa. Terlepas dari beberapa versi cerita tutur, Syekh Ibrahim as-Samarqandi atau yang dikenal sebagai Ibrahim Asmoroqondi berhasil mendidik kedua putranya hingga menjadi mahaguru dan pendakwah kelas wahid.
Ali Rahmatullah atau Raden Rahmat (Sunan Ampel) dan Ali Murtadho (Raden Santri Raja Pandhita) adalah hasil didikan Syekh Ibrahim as-Samarqandi. Kedua putranya yang juga keturunan ningrat ini lahir dari putri Kerajaan Campa, Dewi Condrowulan. [beq]






