Jakarta (beritajatim.com) – Waktu menunjukkan pukul 11.01 malam saat Ganjar Pranowo tiba di Kampung Bayan Krajan, Kadipiro, Solo. Mobil sejenak berhenti, Ganjar turun. Dia tampil dengan balutan kemeja hitam jaket putih dan celana krem.
Di depannya, warga berjubel. Ingin melihat secara langsung wajah pria kelahiran Purworejo yang tengah bersiap bertarung di Pilpres 2024. Syukur-syukur, bisa menjabat tangannya.
Dari mobil, Ganjar berjalan sembari tersenyum dan menjabat satu per satu tangan warga yang bisa dia raih. Tujuannya satu, rumah milik Susilo.
Ganjar Pranowo lalu duduk bersila di teras di rumah itu. Di atas tikar seadanya, dengan posisi duduk melingkar. Di satu sisi, ada ibu yang mengajak anaknya. Sedangkan di sisi lain, bapak-bapak duduk bersila. Ada pula yang berdiri. Lantaran tikar tak memadai.
Tak ada yang serius. Seluruhnya tertawa dengan renyahnya. Menikmati keseruan banyolan bersama Ganjar. Meski malam beranjak larut, tak ada yang mau bergeser dari tempat itu.
Pun dengan Ganjar sendiri. Tak lelah meladeni warga yang ingin berlama-lama mengobrol. Ngalor ngidul. Sampai lupa waktu pun tak apa. Penampilan Ganjar malam itu pun terlihat begitu segar. Mungkin pengaruh dari gelak tawa yang sedari tadi bergemuruh.
Susilo pun senang bukan kepalang. Rumahnya jadi pilihan Ganjar bercengkrama bersama warga. Dia mengaku sudah menyiapkan semaksimal rumahnya untuk menyambut kedatangan Ganjar. Maksimal yang dimaksud bukan mewah, tapi seada-adanya.
Susilo pun tak merasa terbebani dengan melakukan persiapan. Sebab, dia tak sendiri. “Alhamdulillah, dibantu teman-teman relawan, keluarga saya bisa menerima kedangan Pak Ganjar,” ungkapnya dengan mimik ceria.
Kisah Ganjar dan Susilo sesungguhnya bukanlah sekedar tentang betapa bahagianya dikunjungi dan mengunjungi itu. Juga bukan kisah tentang menginap semalam. Ngakak, ke pembaringan, terlelap, esok paginya ngopi, lalu melambai tangan, izin pamit.
Kisah keduanya datang dari sembilan tahun lampau, dari kesulitan nasib, kemiskinan yang menghimpit, dan mimpi anak-anak yang jauh dari keadaan. Sekolah, bagi Susilo, dan juga anak-anaknya terlampau tinggi dari situasi. Kesulitan yang menghimpit, menjauhkan anak-anak-anaknya dari mimpi indah tentang bangku sekolah.
Ganjar Pranowo sesungguhnya juga lahir dari keluarga yang tak begitu jauh dari keadaan keadaan Susilo itu. Serba kekurangan, ayah Ganjar seorang polisi berpangkat rendah dan ibunya berdagang di toko kelontong, dan rasanya begitu susah mengantar semua anak menjemput mimpi. Ganjar bahkan sempat cuti kuliah setahun, jual bensin pinggir jalan, dan itu demi membayar uang kuliah serta makan sehari-hari.
Hidup yang pahit itulah yang melecut Ganjar merintis SMK Gratis di Jawa Tengah, ketika dia menjabat gubernur. Anak-anak dari keluarga tak mampu, sekolah dan tinggal di asrama. Gratis, tanpa bayar sepeserpun. Sekolah yang dirintis Ganjar itu, menjelma menjadi secercah cahaya diujung lorong gelap bagi Susilo.
Bagus, putra Susilo tamat SMP yang terhitung cerdas, tapi ekonomi keluarga terlalu doyong untuk mengongkos, mengadu peruntungan di sekolah itu. Dia lulus tes. Tamat tahun 2017. Dan kini dia bekerja di perusahaan ternama. Bergaji lumayan besar. Sebagai tenaga mekanik di sebuah perusahaan tambang.
Di seluruh Jawa Tengah, Ganjar sudah membangun 17 SMA dan SMK gratis. Anak-anak kurang mampu bisa bersekolah dan tinggal di asrama, tanpa sepeser pun dipungut biaya. Alumni sekolah itu kini berjumlah lebih dari 1800 orang. Mereka bekerja di banyak perusahaan. Banyak juga yang bekerja pada perusahaan ternama di Jepang, Korea, dan berbagai negara.
Di Asrama SMK Jateng itu, anak-anak tidak hanya diajari tentang ilmu pengetahuan, tentang teknologi yang menderu melampaui otak kita, tapi juga tentang disiplin, budi pekerti, serta tentang perlunya berbakti kepada orang tua. Bahwa sekolah sungguh sanggup menegakan hidup yang nyaris roboh.
“Alhamdulillah,” kata Susilo penuh haru, “anak saya sudah membantu ekonomi keluarga.”
Rumah milik keluarga Susilo kini terbilang mentereng. Semua tembok. Dibangun dari uang kiriman sang anak. Dulu, katanya, “Rumah saya ini gubuk, dan hampir roboh.” Di rumah bikinan sang anak itulah, malam itu, Ganjar mengaso hingga pagi. Pulas.
Kisah Ganjar menginap di rumah rakyat itu, bukanlah cerita hari ini saja. Hari di mana hampir semua kita fasih bicara tentang politik, entah benar entah tidak, tentang pemilihan presiden, bertengkar di banyak grup percakapan membela jagoan masing-masing, dan tentang sekian kemungkinan pemenang yang dihitung oleh lembaga survei, atau ramalan sekian tukang nujum di musim politik. Menginap di rumah warga itu sudah dilakukan Ganjar jauh sebelum keriuhan Pemilu Presiden.
Semenjak menjadi gubernur Jawa Tengah tahun 2013, Ganjar sudah rajin berkeliling, dari desa ke desa, kampung ke kampung, dan memilih rumah warga sebagai tempat bermalam. Saat menjadi gubernur itu, Ganjar memaksa dirinya agar setiap Rabu dan Kamis dalam sepekan pergi berkeliling, makan bersama, lalu menginap di rumah warga.
Seperti yang terjadi di rumah Susilo tiga hari lalu itu, saat menjadi gubernur itu warga juga selalu riuh menyambut, duduk di tikar bersama ganjar, cerita, curhat, membanyol, dan ngakak bersama.
Dari obrolan penuh gayeng itulah Ganjar merekam sekian soal, kesulitan rakyat, merumuskan jalan kebijakan, dan langsung eksekusi. “Mereka perlu dibantu urus sertifikat tanah, bantu sekolahin anak, bantu urus keluarga yang sakit,” kata Ganjar sebagaimana ditulis banyak media, 7 Maret 2018.
Selain mendirikan sekolah dan asrama gratis, Ganjar juga merintis program rumah layak huni, beli tanah dapat rumah, rumah dengan uang muka nol persen, asuransi untuk orang-orang kecil, serta sekian program yang dirintisnya sebagai jalan keluar dari sekian keluhan yang didengar dari obrolan keliling sebelum terlelap.
Sepuluh tahun mempimpin Jawa Tengah, Ganjar sudah membangun lebih dari satu juta rumah layak huni. Tepatnya: 1.041.894 rumah. Itu belum termasuk rumah-rumah yang reot atau doyong yang direhab oleh Pemda Jawa Tengah, yang membuat pemiliknya menangis penuh gembira.
Selasa 14 April 2022, seorang warga asal Kebonombo Semarang, yang sehari- hari hidup dari menjual Cilok, meledak tangisannya ketika Ganjar berkunjung ke rumahnya. Sambil menangis dia terus memeluk Ganjar. Rumah warisan ayah ibunya itu sudah hampir menyerah. Berdinding kayu yang lapuk dan berlantai tanah. Rumah milik Junaidi itu adalah satu dari ribuan rumah yang direhab Ganjar selama menjadi gubernur.
Pada masa menjadi gubernur Jawa Tengah itu, Ganjar juga rajin menyambangi sejumlah daerah di Indonesia. Durasi perjalanannya kian sering setelah resmi diusung menjadi calon presiden 2024.
Senin malam, 6 November 2023, saat berkunjung ke Trikoyo, Musi Rawas, Sumatera Selatan, Ganjar menginap di rumah warga bernama Tambah Sutrisni. Warga ramai menyambut dan lebih dari dua jam Ganjar mendengar curhat, membanyol, dan ngakak bersama warga.
Di kampung Nagrok, Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin 9 Oktober lalu, ribuan warga sudah menunggu semenjak petang. Ganjar tiba malam hari, disambut warga dengan sorak sorai. Warga betah ngobrol, curhat, berkelakar, hingga larut.
Dari menginap itulah Ganjar tahu banyak, tahu tentang keadaan rumah kita, kesehatan, serta kemanpuan seorang ayah mengirim anaknya ke bangku kuliah, dan melihat wajah para penganggur di tempat yang paling kita rindukan; desa.
Itulah sebabnya, bersama Cawapres Mahfud MD, Ganjar bertekad membangun lebih dari 10 juta rumah layak huni, buka 17 juta lapangan kerja, satu desa satu Faskes dan satu Nakes, satu keluarga miskin satu sarjana, dan bertekad membangun sekolah dan asrama gratis untuk anak dari keluarga tak mampu di banyak daerah di seluruh Indoesia, sebab sekolah adalah jalan mengubah nasib, lebih dari sekedar makan nasi gratis.
Sepuluh tahun menjadi gubernur, Ganjar telah mengubah nasib banyak keluarga, dari petani, penjual cilok, nelayan hingga tukang ojek. Rafli Saputro, yang lahir dari keluarga yang susah, alumni SMK yang dirintis Ganjar dan kini bekerja di perusahaan ternama di Jepang, sudah beli tanah, bangun rumah untuk ibu, lewat sebuah video yang viral di media sosial, bersaksi kepada kita semua, “Terima kasih Pak Ganjar, telah mengubah nasib saya dan keluarga, untuk selamanya.” [beq]






