Ponorogo (beritajatim.com) – Bukan hanya reog, kesenian asli dari Ponorogo. Ternyata masih ada kesenian lain yang juga hanya dan asli dari Ponorogo.
Yakni tari Keling. Seni tradisional tari ini, hanya ada di Dusun Mojo, Desa Singgahan di Kecamatan Pulung.
Tari Keling hingga kini masih eksis, dan sudah terwariskan secara turun-temurun oleh keturunan warga Dusun Mojo. Dinamakan Keling, karena disebut diambil dari nama suku yang dulu ada di Jawa ini.
“Keling diambil dari nama suku di Jawa ini. Informasi ini dari mbah-mbah buyut kami,” kata Ketua seni tari Keling, Wiyoto, Jumat (12/8/2022).
Para pemain tari Keling identik dengan tubuh yang berwarna hitam. Sebab, dulu suku Keling warna tubuhnya memang seperti itu.
Wiyoto, yang merupakan generasi keempat pelestari Keling menyebut bahwa tari ini mempunyai keunikan tersendiri. Semua pemainnya, baik itu dari musisi dan penarinya hanya dimainkan oleh warga Dusun Mojo Desa Singgahan.
Satu grup seni tari Keling ini berjumlah sebanyak 35 orang. Pemain tarinya pun ada yang berperan menjadi prajurit, pujangga, abdi putri dan penari penggembira kerajaan.
“Tarian ini tidak bisa bercampur atau berkolaborasi dengan kesenian lain. Dan hanya ditampilkan oleh warga Mojo,” katanya.
Gerak tarinya dari dulu hingga sekarang masih sama, tidak ada improvisasi atau perubahan. Selain itu, gerakannya pun tidak diadopsi dari tarian dari daerah manapun.
“Gerakannya dari jaman mbah-mbah dulu hingga sekarang ya masih sama,” katanya.
Pemain sebagai prajurit badannya dibuat hitam semua. Untuk membuat hitam pekat, tubuh si pemain diolesi menggunakan campuran minyak curah dan arang atau serbuk hitam yang didapat dari panci yang permukaan bawahnya hitam.
“Memakai mahkota yang terbuat dari bulu ayam dan celananya susunan dari daun kelapa,” ungkap Wiyoto.
[berita-terkait number=”4″ tag=”ponorogo”]
Ada kepercayaan diantara personil tari Keling, bahwa bahan kostum yang digunakan tidak boleh dibuang disembarang tempat. Melainkan harus dibuang di tanah Dusun Mojo sendiri. Ada pengalaman mistis terkait pembuangan kostum penari keling ini.
Wiyoto bercerita bahwa grupnya pernah tampil di Kediri untuk acara parade budaya. Nah, pulangnya saat melewati hutan sukun akan masuk Kecamatan Pulung, ada yang membuang kostumnya di alas tersebut. Sejak saat itu, banyak warga yang mengaku melihat ada orang hitam-hitam menarikan Keling di sekitar alas Sukun.
“Kejadian pembuangan kostum itu terjadi pada tahun 2017. Banyak orang yang mengaku melihat tari Keling beraksi di alas tersebut,” pungkasnya. (end/ted)






